Thursday, July 22, 2010

Persaingan Perampok dan Biro Iklan


Saya sudah sejak lama tidak membeli dan membaca koran untuk diri saya sendiri, dalam arti koran kertas lho ya. Sering beberapa kali membeli koran semata karena kasihan dengan penjualnya yang masih cilik. Tapi jarang saya baca. Dan pilihan saya jatuh ke koran elektronik alias internet news. Suatu ketika, pilihan saya tersebut menghantarkan berita yang menarik perhatian saya, perampokan yang berhasil digagalkan atas salah satu cabang suatu bank.

Lalu apa istimewanya lalu berita tersebut ?

Keistimewaan pertama tentu kecepatan saya memperoleh akses atas berita tersebut, tentu atas jasa internet. Berita itu pasti baru ada di koran kertas keesokan harinya, dan bisa jadi akan basi.

Keistimewaan kedua, dan ini yang lebih penting, adalah mengenai bank tersebut. Terdapat sekian tahun dari perjalanan hidup saya tertaut dengan bank tersebut. Suatu bank kecil, yang saya tau persis tabiat manajemen dan arah bisnisnya, untuk tidak terlalu serius berinvestasi pada pembangunan brand awareness. Pernah saya mendengar dari salah satu petingginya berkata "biar aja lah, rugi buang uang banyak-banyak cuma bikin kaya biro iklan, mending untuk bonus kita, dibiarin aja lah karena kalo bisnis kita baik-baik aja dan jadi besar lama-lama mereknya juga ngetop".

Mengenaskan. Petinggi suatu lembaga jasa finansial hanya mampu menterjemahkan "brand awareness" dengan frase pendek : merek ngetop. Faktanya, brand awareness bukan cuma sekedar merek yang ngetop. Tapi kita tidak berdiskusi mengenai hal ini lah ya.... Fakta mengenaskan berikutnya adalah, saya tahu persis bahwa dalam pendiriannya bank tersebut mengemban misi mulia untuk mengembangkan perekonomian berbasis keadilan dan transparansi. Jika memang misinya sedemikian mulia, mengapa umat dibiarkan menunggu sedemikian lama hingga "mereknya ngetop" untuk tahu bahwa solusi keuangan dan jasa finansial rakyat telah tersedia dalam bentuk kehadiran bank tersebut ?

Namun ada yang lebih mengenaskan lagi. Simak diskusi saya dengan salah seorang sahabat yang menjadi karyawan bank tersebut "lumayan, gak sengaja jadi ngetop sekarang nih kantor, orang jadi tahu bahwa ada bank yang bernama bank X (nama bank tersebut, dan mulai banyak telepon masuk menanyakan keberadaan bank tersebut".

Tau dari mana mereka tentang nomor layanan pelanggan bank tersebut ? Rupanya banyak yang tanya ke saluran informasi 108 milik Telkom atau bertanya ke suatu bank yang menjadi induk perusahaan pemilik bank kecil ini. Berarti bener, memang tidak ngetop sama sekali.

Untuk bisa memperoleh status "ngetop" atau "hitnya naik drastis", maka harus ada upaya perampokan dulu. Artinya, para biro iklan berhati-hatilah, periuk nasi anda akan bersaing dengan kehadiran perampok bank, hal ini akan terjadi selama ada manajemen ndableg yang tidak mau berinvestasi pada pengembangan brand awareness.

Singkat cerita, saya ucapkan selamat kepada rekan saya tersebut yang telah bertahan cukup lama di perusahaan tersebut dengan mengusung idealisme pribadinya sebagai "vitamin" untuk menjaga stamina mentalnya di bank tersebut.

[masdewo@aol.com]

Tuesday, July 20, 2010

[insideofficesidejob] pengantar


Dear readers,

Kali ini saya membuka satu topik baru disini, saya beri tagmark [insideofficesidejob] alias "pekerjaan sampingan dari dalam kantor". Kita sepakat bahwa dalam sejumlah hal, dan dirasakan oleh cukup banyak orang, apa yang terselenggara di kantor belum tentu memuaskan. Bisa dalam konteks uang, atau dalam konteks kepuasan batin atau aspek lain, misalkan networking atau kreativitas.

Sekedar ilustrasi, bagi seorang yang sebenarnya amat "nyeni" dan doyan coret-coret atau main-main dengan software desain grafis, tapi rejeki formalnya membawa dirinya bekerja di suatu bank sebagai tenaga back office. Apakah akan memuaskan batin ? Sudah hampir pasti jawabnya adalah "Tidak".

Saya berharap ini bisa jadi ajang berbagi, baik ide, inspirasi dan motivasi. Let's go for the side job inside the office !

<masdewo@aol.com>

Saturday, July 17, 2010

Berdiri karena Bebek

Tiga hari lalu saya bertemu rekan lama, seorang yang dulu ada di layer di atas saya. Pejabat lah pokoknya… Saat ini sepertinya beliau tidak semegah dulu dan sama-sama juga sudah pindah ke company lain. Beliau ini seorang pria usia empatpuluhan, lumayan ganteng, modis dan fashionable, serta pastinya banyak tingkah. Namun, dia juga menyenangkan dan friendly. Saat itu saya tengah menikmati perjalanan di atas transportasi favorit saya : Busway van Sutiyoso jurusan Blok M – Kota.

Saya naik dari terminal Blok M dan pagi itu kosong, hanya sekitar sepuluh orang saja penumpang, dan otomatis banyak bangku kosong. Saya pilih yang kiri-kanan kosong jadi kayak raja saja rasanya. Di terminal Al Azhar alias terminal pertama setelah Blok M, beliau naik, dan seperti biasa agak-agak bikin malu dengan sapaan ramah dan ramainya. Bolak balik saya persilakan duduk ia menolak dan terus ajak saya bicara. Pagi itu ada dua topik yang saya catat amat antusias disampaikannya. Apakah itu yang membuatnya enggan duduk ?

Pertama, soal hasil eksplorasinya bahwa naik TransJakarta (kalau Busway kan nama jalurnya ya ??) itu memang menyenangkan karena murah dan cepat. Ia cukup parkir di Al Azhar untuk mengantar anaknya lalu menyeberang naik TransJakarta hingga kantor. Begitu pula pulangnya, dengan arah sebaliknya. Kadang saya berpikir, kantor kami dulu pun di depannya ada halte busway, tapi mungkin karena beliau dulu dapat mobil mewah dan supir dari kantor maka tidak masuk hitungan lah moda transportasi ini.

Kedua, soal ada rumah makan bebek yang baru buka di daerah dekat Al Azhar. Ini ditemuinya pagi ini dan ia sempat menghabiskan satu porsi bebek. "Sambelnya pas banget, sampe keringetan tapi puas banget deh", urainya. Aneka pujian terus dilayangkan dan saya sampai heran, apa iya ada menu bebek yang sedemikian sih ? Biasa aja lah menurut saya, kalaupun ada yang enak, ya bedanya tidak jauh-jauh amat dari yang lain. Yang jelas, ia tetap berdiri anteng di depan saya sekalipun ada belasan kursi kosong di sekitarnya.

Di halte yang kami tuju, oh iya kantor beliau sekarang hanya dua gedung dari kantor saya, kami turun dan memang hanya kami yang turun. Mulailah ia bertutur lebih serius. "Abis ini gue mau ke mall dulu bentar, abis naro tas di kantor langsung jalan". Lalu disambungnya "jam berapa ya mall buka dan mulai jualan ? gue mau beli celana nih". Aneh ya ?

Rupanya, si bebek punya hajat. Tanpa diminta dia jelaskan "emang menu bebek tadi luar biasa, gak ada matinya, enak banget, tapi pedesnya juga luar biasa, sampai keringetan", masih cerita yang sama. Kemudian, "perut gue sampe mules, tadi kerasa mau buang angin tapi rupanya ada yang ikutan deh…. Makanya maap ya tadi gue ngobrol sambil berdiri aja, ga berani duduk soalnya…"

Ealaaaaah… itu toh ceritanya….

[masdewo@aol.com]

Friday, July 16, 2010

Rule of Baseball

Baseball is easy? Wait. Read this Rule of Baseball :

This is a game played by two teams, one out the other in. The one that's in, sends players out, one at a time, to see if they can get in before they get out. 

If they get out before they get in, they come in, but it doesn't count. 
If they get in before they get out it does count.

When the ones out get three outs from the ones in before they get in without being out, the team that's out comes in and the team in goes out to get those going in out before they get in without being out.

When both teams have been in and out nine times the game is over.

The team with the most in without being out before coming in wins unless the ones in are equal. 

In which case, the last ones in go out to get the ones in out before they get in without being out.

The game will end when each team has the same number of ins out but one team has more in without being out before coming in.

So, are you in or out?

"love the country, just hate the leaders and the politicians"

Wednesday, July 14, 2010

From The First Day at School


Kemarin menjadi hari yang istimewa bagi kedua anak saya, si sulung masuk SD ("sekolah beneran nih aku sekarang" katanya) dan si bungsu masuk ke TK B (yang disebutnya "sekolah untuk anak yang udah mau gede"). Bukan hanya excitement yang mereka dapatkan di lingkungan dan suasana baru, tetapi juga kawan baru dan cerita baru.

Kebetulan saya memperoleh "jatah" untuk mengawal si kecil, berarti masih di sekolah yang lama, dan dengan teman-teman yang lama plus beberapa kawan baru. Saya beruntung memiliki sekitar 10 menit untuk mendengarkan interaksi sosial pertamanya di sekolah setelah berlibur selama satu setengah bulan. Dan pengalaman ini mengajarkan saya beberapa hal baru sesungguhnya.


"Aku bermain di sawah, papa mamaku ajak aku dan kakakku liburan ke Jawa, jadi kita juga ke candi besar di Borobudur", demikian intro-nya. Agak salah sih sebenarnya tata bahasa dia, tapi okelah. Lalu disambungnya "ada jalan di Jogja namanya Marlioboro, terus belanja batik di Solo", masih ada kesalahan ucap, dan aneka lanjutannya. Ini menjadi trigger bagi aneka cetusan lain dari rekan-rekannya di taman bermain bagi kalangan menengah ini.


Dalam sekejap saya terkejut. Dari anak-anak usia empat-lima tahun ini terlontar aneka kata-kata ajaib : "Singapor", "Paris", "Menara Petronas", "Kei El", "Aussie", "Gedung Opera", dan juga kata yang agak relevan "nonton piala dunia di layar besar di Londen waktu Inggris kalah".... ck ck ck Hebat Euy !!


Tersadar ingatan saya seorang tukang sol sepatu yang kami panggil semalam untuk menambal sol sepatu saya yang sobek terkena benda tajam. Bayaran dari diperolehnya dari kami amat disyukurinya karena telah memberi napas baru bagi anaknya, untuk melanjutkan sekolahnya ke bangku Sekolah Dasar Negeri. "Kurang uang seragam dan buku, kalau uang sekolahnya gratis", tuturnya. Tidak banyak sesungguhnya, hanya Rp 30.000,-. Ya, anda tidak salah, tiga puluh ribu Rupiah, bukan tiga puluh ribu Dollar, yang telah menghantarkan seorang anak untuk dapat merasakan nikmat dan bahagianya bangku sekolah dasar negeri yang sederhana. Nilai yang sama pula, jika tidak terbayarkan, akan merenggut mimpi, senyum dan kebahagiaan anak si tukang sol sepatu tersebut.


Ia cukup beruntung. Ratusan, ribuan, bahkan jutaan, anak-anak malang di seluruh penjuru dunia, tidak seberuntung dirinya. Sekalipun tidak dapat dipastikan seberapa jauh ia akan melangkah menapakkan kakinya di alam pendidikan guna secuil harapan untuk perbaikan nasibnya, setidaknya ia hari ini telah sampai di titik harapan pertama. Senyum dan kebahagiaan di titik ini telah digapainya. Entah nanti.... Namun bagi anak-anak yang kurang beruntung, bahkan kebahagiaan hari pertama ini pun terlalu jauh dari bayangan. Terlalu tinggi dari gapaian. Dan sudah pasti terlalu pedih dari sekedar harapan.


Saya teringat seorang sahabat yang dibuang kedua orang tuanya saat masih bayi dan diakui sebagai anak kandung kakek neneknya saat hendak "dilego" ke suatu panti. Setelah melalui masa penuh kasih di suatu desa di Jawa Barat, saat tumbuh dewasa ia menyadari perbuatan aib tersebut, dan bersumpah tidak akan memaafkan kedua orang tuanya. Dendamnya begitu besar, sehingga hanya pupus oleh dua hal. Pertama adalah rasa kasih sayang tak terhingga dari kakek neneknya yang ikhlas membesarkan dirinya dan memompakan kata maaf tiada henti ke dirinya hingga ajal mereka, dengan harapan ia akan memaafkan kesalahan orang tuanya. Kedua adalah curahan kasih sayangnya pada anak-anak yang kurang beruntung. Energi, rejeki dan emosinya seolah tiada pernah habis untuk dialirkan kepada mereka yang kurang beruntung ini. "Cukup saya yang merasakan itu semua" katanya suatu waktu.


Ia tidak menikah dan bersumpah tidak akan menikah. Pernikahan menurutnya hanya akan menjadikan diri seseorang menjadi bukan dirinya sendiri. Saya tau ia marah dan salah, tapi tidak ada jalan sejauh ini untuk menyadarkannya. Enam tahun bersahabat dengannya, saya tidak mampu menghitung dan mengingat, berapa banyak uang yang disalurkannya ke anak-anak kurang beruntung itu. Saya mencatat, tiga kali ia mendirikan bangunan sekolah dan madrasah. Saya tau ia memiliki empat usaha yang terus merugi dan dibiarkannya tetap berjalan agar bisa dijadikan bengkel latihan keterampilan dan kewirausahaan remaja di desa. Saya pernah diminta menemaninya ke Glodok untuk membeli sepuluh mesin pembangkit listrik tenaga air ukuran mini, "agar tiap malam adik-adik di sepuluh desa itu bisa belajar dan mengaji" katanya. "Tidak perlu membayar listrik yang mahal agar uangnya bisa dipakai untuk terus bersekolah" harapnya.


Suatu hari ia tidak masuk kantor, cuti statusnya di HRD. Seminggu kemudian ia sumringah masuk kantor lagi dan katakan ia baru saja pulang dari Amerika Serikat, dan sukses menggolkan paket penjualan furniture dari salah satu usahanya. Siang harinya ia memohon saya pinjamkan uang sebesar dua juta Rupiah, yang terasa agak "janggal". Rupanya ia hendak mengirim uang ke beberapa desa, total senilai dua ratus juta Rupiah untuk pendirian gedung sekolah swadaya, membangun instalasi listrik alam, dan membuat perpustakaan desa. Itulah desa-desa yang ditemuinya beberapa minggu lalu saat mencari pemasok rotan untuk industri furniturenya. Miskin, tersisihkan dan tidak berdaya, katanya.

Saya doakan kawan saya tersebut, untuk selalu panjang usia dan selalu kembali kepada ketaqwaan yang seharusnya, dimana ia begitu marah kepada Tuhan dan menolak bersujud kepadaNya karena nasib yang diterimanya di masa lalu. Namun saya juga berdoa untuk diri saya sendiri dan para orang tua dari anak-anak lain yang super beruntung itu, agar selalu dibukakan hati dan nurani agar membelanjakan lebih dari yang kita pernah lakukan, demi anak-anak yang malang itu. Tawa bahagia mereka, Insya Allah akan menjadi jembatan dariNya untuk meniti jalan kehidupan yang penuh ridha dan berkah dariNya, bagi diri kita dan keluarga kita.


Di pidato pertama Kaisar Hirohito setelah menyatakan penyerahan tanpa syarat pada Sekutu, dengan lirih dan pedih ia sampaikan : "segera berjalan ke seluruh penjuru negeri, hitung dan sampaikan padaku, berapa ruang belajar yang tersisa, berapa guru yang masih mampu mengajar, dan berapa anak yang masih mau belajar, kita akan segera bangkit bersama-sama melalui mereka". Dan ia benar.

Rekan-rekan, masa depan bangsa kita, senang atau tidak, harus dititipkan pada generasi yang kita bicarakan di atas.

Selamat bersekolah Nak, bagi yang beruntung. Kepada yang belum beruntung, teruslah berdoa, berharap, dan memohon. Allah tidak akan meninggalkan ummatnya.


[masdewo@aol.com]

Kartu Pos dari Frederikplatz


Saya dikabari oleh adik saya beberapa minggu lalu saat di kantor, "mama tadi siang jatuh, lututnya cedera mungkin ada yang patah". Singkat cerita ibu saya dibawa ke Rumah Sakit dan memang harus bed rest beberapa minggu sebelum bisa mulai latihan berjalan. Tidak ada yang spesial dari rangkaian kejadian ini, kecuali kesadaran kami bersama bahwa ibu saya memang sudah menua dan harus diawasi lebih ketat (sekalipun beliau bisa murka kalau tahu saya katakan ini). Ibu saya selalu merasa amat kuat (setidaknya itulah anggapan dirinya tentang dirinya sendiri), dan pantang menyerah.

Kejadian yang agak spesial terjadi dua minggu sesudahnya, saat saya dan keluarga berkunjung untuk melihat kemajuan Ibu dari pemulihan cederanya. Saat semua bersenda gurau mengelilingi Ibu yang bermain dengan kursi rodanya, bersama cucu-cucunya dan diawasi oleh Ayah saya. Semenjak datang, perhatian saya terpaku pada suatu kartu pos cantik di sudut ruang tamu, tempat kami meletakkan aneka surat dan tagihan sejak kami tempati rumah itu tiga puluh tiga tahun lalu. Kartu pos cantik itu terkirim dengan pesan singkat di belakangnya "peluk cium untuk Ibu, semoga lekas sembuh. maafkan saya tidak bisa hadir langsung menghadap Ibu saat sakit".


Di bagian depannya tampak pemandangan khas di suatu negara Eropa, kastil dan taman bunga nan indah dengan tulisan di sudutnya "Frederikplatz".


Ingatan saya melayang jauh ke suatu sore di akhir minggu di rumah ini, sekitar dua puluh tahun lalu. Kami sekeluarga tengah membersihkan halaman rumah bersama-sama, saat itu saya masih di bangku Sekolah Menengah Atas. Aktivitas kami terhenti seketika saat seorang anak gelandangan yang terlihat amat menderita, membawa karung lusuh dan tampak begitu berat untuk tubuh kurus dan ringkihnya, memperhatikan kami dari luar pagar. "Boleh saya bantu bersihkan halamannya Bu, saya butuh uang untuk makan" ucapnya. Saya ingat, ucapan itu lebih terdengar seperti rintihan lemah.


Perlu saya sampaikan, Ibu saya seorang yang tegas, keras namun sosial. Bahkan bagi kami pun beliau masih tergolong aneh. Salah satu keanehannya adalah kegemaran beliau membawa pulang hal-hal tidak terduga : aneka barang antik, aneka majalah berbahasa asing (Ibu putra seorang diplomat, fasih bicara dalam 5 bahasa asing dan menghabiskan 15 tahun di luar negeri bersama orang tuanya), dan aneka orang yang kurang beruntung. Persis seperti dugaan kami, Ibu bangkit, membuka pintu dan ajak anak tersebut masuk. Tidak lama, ibu ajak bicara dan suguhkan panganan kecil yang ada di meja makan kami sore hari itu. Apa yang dibicarakan, kami tidak tahu persis hingga hari ini, namun kami sudah tahu apa yang terjadi sesudahnya.


Malam itu juga, anak tersebut datang kembali ke rumah dengan membawa beberapa baju kumal, dan kantung lain berisi aneka barang. Itulah seluruh "harta benda" yang dimilikinya. Ibu hanya berkata singkat, "malam ini Coki (begitulah kami panggil anak itu hingga hari ini) akan tinggal disini bersama kita hingga ia bisa mandiri dan kembali ke rumah orang tuanya, kita akan dibantu untuk urusan bersihkan halaman, sampai ia mendapat sekolah". Tegas dan tidak ada maksud untuk membuka tanya jawab. Kami tersentuh melihat anak itu, amat kurus dan kotor, namun satu hal saya dan adik2 saya sepakat : tatapannya cerdas, dan anak itu tampak tabah, pantang menyerah. Kedua hal yang sama persis dengan karakter Ibu.


Kami belakangan tahu, ia masih punya Ibu kandung, dua orang kakak lelaki yang meninggalkan rumah untuk mencari nafkah (entah dimana dan menjadi apa), serta seorang adik perempuan beberapa tahun di bawah usianya yang menderita keterbelakangan mental (sangat mungkin karena gizi buruk dan kehidupan yang sulit saat di kandungan). Ia tinggal di suatu kampung kumuh, di sebuah rumah berlantai tanah dan berdinding kardus, bertiga bersama ibu yang amat dicintainya dan adiknya yang terbelakang. Mereka ditinggalkan oleh sang Ayah tidak lama setelah si adik terlahir cacat. "Bapak kawin lagi sama penyanyi dangdut di pasar malam belakang pasar Kebayoran" ucapnya lugu. Ia mencari nafkah menjadi gelandangan pemungut sampah setelah agak besar, dan tidak pernah sekolah. Kami tidak tahu persis berapa usianya. Kami perkirakan saat itu ia sudah usia 9 atau 10 tahun.


Ibu cukup sigap. Esok hari, ibu secara sepihak menetapkan tanggal di hari ia datang sebagai ulang tahunnya, dan tetapkan usianya 8 tahun. Lalu Ibu bergegas ke pengurus lingkungan dan mulai mengurus salinan surat lahir, agar anak ini bisa bersekolah. Beberapa bulan kemudian saat hari pertama tahun ajaran baru, jadilah anak itu  sebagai siswa tertua di kelas 1 (sekalipun tubuhnya sama dengan rekan lainnya) di Sekolah Dasar Inpres dekat rumah kami. Kami masih ingat bagaimana ia tidak hentinya bersujud syukur sepulangnya dari hari pertamanya ia bersekolah. Ia tampak begitu bahagia dan saya ingat betul hari itu ia terlambat menyiram tanaman karena tertidur kelelahan. Entah lelah bersekolah atau lelah merajut mimpi indah.


Malamnya, saat hendak tidur dan hendak ucapkan selamat malam ke Ibu, saya mendapatkan Ibu, seorang yang saya kenal berwatak amat keras dan garang, menangis sembari mempersiapkan seragam sekolah anak itu. Terlihat jelas celana berwarna merah itu basah oleh air mata Ibu. Saya hanya beringsut pergi dan batalkan rencana saya mengucapkan selamat malam.


Saya tidak ingat detail sesudahnya, saya lolos UMPTN dan diterima di perguruan tinggi negeri elit. Saya pergi untuk kost karena lokasi kampus agak di luar kota. Yang saya tahu, adik-adik sering mengatakan Ibu sering masak masakan yang enak-enak karena anak itu rapornya bagus. Namun saya juga diceritakan bahwa anak itu sering menangis karena bentakan dan hardikan Ibu yang tidak mau terima nilai ulangannya hanya delapan. Saya kemudian tahu bahwa anak itu masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri yang cukup baik di dekat rumah kami, dan kembali tinggal bersama Ibu dan adiknya.


Tidak berapa lama, cobaan pun datang. Si adik yang amat disayanginya meninggal dunia karena kecelakaan. Menjelang kelulusannya, sang Ibu pun meninggal dunia karena sakit. Keluarga kami sempat membawanya ke Rumah Sakit namun tidak tertolong, kemungkinan besar karena pneumonia akut. Sejak saat itu ia tinggal kembali di rumah kami. Kami sempat mendengar di malam ia kembali ke rumah, ia mengatakan "bolehkah saya menjadi anak Ibu ? saya tidak punya siapa-siapa lagi". Kami pun mendengar Ibu hanya bergumam datar menjawab "gak perlu diminta, kamu sudah jadi anak Ibu sejak kamu lewat depan pagar dulu". Kemudian kami hanya mendengar suara isak tangis anak malang itu. Saya tidak tahan untuk tidak ikut menangis waktu itu. Saya juga melihat adik-adik saya menangis, dan Ayah menitikkan air mata saat kejadian itu. Kami semua menangis.


Di luar dugaan, saat kelulusan ia menjadi lulusan terbaik dan masuk ke Sekolah Menengah Atas elit di daerah kami serta memperoleh beasiswa. Satu hal yang tidak hilang, halaman rumah dan mobil ayah saya masih menjadi "garapan" rutinnya. Kami kemudian mendengar, Ayah dan Ibu memanggilnya menjelang kelulusan dan katakan bahwa mereka tidak mampu biayai dirinya untuk kuliah di perguruan tinggi swasta. Ia hanya mengangguk dan katakan seusai SMA, ia mungkin akan bekerja jika tidak memperoleh kesempatan kuliah. Saya ingat, ia akan belajar mengemudi untuk menjadi supir angkutan kota . Sungguh sayang sebenarnya untuk seseorang yang pandai dan fasih berbahasa Inggris, hanya menjadi supir. Ibu mendidiknya amat keras bukan hanya soal disiplin dan soal pelajaran, Ibu memaksanya untuk fasih berbahasa Inggris, sama seperti kami, anak-anak kandungnya.


Dan kejutan kejutan berikutnya terus datang. Ia diterima sebagai siswa PMDK di suatu perguruan tinggi negeri di luar kota, tanpa test dan tanpa biaya masuk, di suatu jurusan yang cukup aneh untuk keluarga kami yang berkutat di bidang teknik. Ia memilih jurusan Hubungan Internasional. Rupanya, Ibu amat berhasil membimbingnya, bukan cuma mengangkatnya dan memotivasinya, namun juga memodali mimpinya. Ia ingin bisa seperti Ibu yang bisa menikmati perjalanan ke luar negeri. Ia lulus nyaris 'cum laude' di tahun ke-empatnya, dan sepanjang periode itu Ibu hanya berikan uang yang amat minim untuk biaya hidup. Rupanya ia mencari tambahan dengan memberikan les privat kepada siswa-siswa di bimbingan belajar sebagai nafkah.


Sempat menganggur beberapa saat di kota tersebut, ia kemudian kembali ke rumah, menempati kamar di loteng yang dihuninya sejak belasan tahun sebelumnya. Ia sempat menjadi tenaga administrasi honorer di kantor Ayah selama beberapa bulan sembari mencari pekerjaan lain. Hingga suatu hari saya ditelpon Ibu di kantor "Coki diterima di Deplu, mama mau kamu bicara sama dia karena nanti sore dia harus berangkat ke diklat untuk pendidikan, kamu kasih dia nasehat untuk di dunia kerja". Singkat cerita, masuklah ia ke Departemen Luar Negeri, sebagai calon staff luar negeri, bahasa bersayap untuk "calon diplomat". Lulus pendidikan dengan predikat memuaskan, ia sempat menjadi staff beberapa bulan menunggu penempatan dinasnya. Anak gelandangan pemungut sampah itu kini sudah begitu dekat dengan mimpi yang dulu bahkan tidak pernah mungkin hadir di kepalanya.


Di hari yang hanya berselisih beberapa hari dengan "tanggal kelahirannya", dengan tanggal ia "ditemukan" oleh Ibu, keluar keputusan bagi dirinya, ia ditempatkan di suatu negara di Eropa sebagai staff KBRI dan hanya punya waktu dua minggu untuk masuk karantina dan diberangkatkan. Ibu yang menerima surat itu, dan mereka membukanya bersama-sama. Ayah saya bilang, setelah membaca berulang kali hingga ia yakin apa yang dibacanya, ia langsung memeluk Ibu dan berlutut hendak mencium kaki Ibu. Saya ingat, Ibu selalu murung menjelang keberangkatannya. Saya ingat pula, Ibu tiada henti berdoa dan terus sibuk mempersiapkan aneka keperluan untuk perjalanan jauh itu. Di hari keberangkatannya, kami semua mengantarnya ke tempat ia akan dikarantina di Diklat. Tidak satupun barang yang dipersiapkan Ibu yang ditolaknya. Bawaannya amat banyak dan terlihat merepotkan. Hari itu, kami bertiga menjadi "anak tiri", hingga namanya dipanggil masuk, ia hanya duduk diam bersebelahan dengan Ibu seolah tidak mau lepas.


Dua puluh tahun berlalu sejak kami melihatnya nyaris mati kelaparan di pagar halaman kami. Kini, ia sedang dalam lawatan di suatu negara tetangga dalam rangka dinas untuk menemani rombongan pejabat pemerintah, dan ia sempatkan mengirim sebuah kartu pos untuk Ibu. Kartu pos dari Frederikplatz. Saya masih cukup teliti untuk melihat, di bagian belakang, suatu noda merusak tulisan tangannya untuk Ibu, noda karena air yang mengaburkan tintanya. Saya tahu, itu air mata. Ia pasti menangis pada saat menulis pesan di belakang kartu pos itu untuk Ibu saya.


Ibu saya telah berikan semua yang ia miliki untuk anak ini. Bukan cuma sekedar makanan untuk membuatnya tetap hidup. Ibu juga berikan segenap jiwa pengasuhannya, cintanya dan bimbingannya yang keras. Tidak sedikitpun standar yang diberikan pada kami dikurangi untuk anak itu. Ibu sebenarnya bisa pada saat itu sekedar berikan makanan hangat dan uang, lalu bersikap tidak pernah ada peristiwa tersebut. Tapi Ibu tentukan sendiri jalan yang berbeda bagi dirinya, dan bagi anak yang malang itu.


Dan Allah maha adil, Allah ganjar pula kesungguhan dan keikhlasan Ibu dengan keberhasilan dan pengharapan yang menjadi kenyataan. Allah pula ganjar kesungguhan dan kesetiaan anak itu dengan semua nikmat yang diterimanya hari ini. Membuat perbedaan, itulah yang Ibu lakukan. Itu pula sesuatu yang saya dan semua orang harus lakukan dalam hidup.


Kini, dua puluh tahun berlalu sejak saat kami melihatnya pertama kali dengan iba, ia telah berada di suatu tempat, amat jauh dari kami, tapi mungkin tidak terlalu jauh dari Frederikplatz. Namun tiba-tiba saya lah yang merasa terpisah dari Ibu dengan jarak yang lebih jauh dari jarak antara Frederikplatz dengan Jakarta. Padahal kami sama-sama di Jakarta, dan bahkan kami baru saja bicara melalui telepon dua hari lalu.


Kerinduan saya akan kehadiran beliau demikian menyiksa, ingin rasanya saya bertemu Ibu dan mendekapnya erat. Saya berdoa, agar bisa bertemu Ibu segera agar rindu saya terobati. Rindu pada seorang Ibu dan seorang berhati mulia di balik suara garangnya. Di lubuk hati, terucap kata maaf seorang anak yang tidak cukup keras berusaha untuk dekat dan hadir di hadapan sang Ibu. Semoga saya masih diberi kesempatan sampaikan maaf tersebut.


[masdewo@aol.com]

Saturday, June 26, 2010

Menjilat boss via makanan basi

Aneh memang judul itu, terdengar gak logis sama sekali. Kalau mau menjilat boss ya baiknya pakai makanan superlezat jika perlu yang mahal sekalian kan ? Tapi ini benar-benar nyata terjadi di salah satu kantor yang menjadi episode masa lalu saya. Semua dimulai dari sang Boss yang gila kekuasaan, gila pujian dan gila-gila lainnya lah.

Menjadi seorang pejabat yang tiap minggu masuk daftar wajib hadir di Board of Management meeting di usia 34 tahun di sebuah perusahaan multinasional, perlu kematangan memang. Jika tidak akan seperti si boss ini : paranoid, intimidatif, merasa besar sendiri dan celakanya suka sekali dipuji. Dengan postur yang bengkak setelah melahirkan, seorang kawan memenangkan pertaruhan bahwa "saya bisa bikin dia traktir saya hanya dengan pujian ringan". Benar aja, suatu pagi kawan ini menongolkan kepalanya di ruangan si boss sambil berkata "met pagiii… tumben ceria amat keliatannya boss, apa karena lebih langsing ya keliatannya ?". Sialan kan ?

Suatu hari si boss menginisiasi suatu perayaan ulang tahun perusahaan (yang sebenarnya tidak pernah dirayakan selama ini) dan mengadakan makan-makan di kantor dengan tentunya mengintimidasi para manager di bawah kekuasaannya, termasuk saya. Kami yang tidak tau apa yang jadi targetnya dan apa tujuannya, kecuali sebagian dari kami termasuk saya berpikir ia akan show off ke CEO baru, seorang Inggris yang katanya "berpengalaman" tapi menurut saya mudah sekali dibodohi. Kami terpaksa keluarkan uang dan mobilisasi anak buah kami untuk perayaan gombal ini. Tapi seperti biasa, tidak sedikitpun kami tau apa yang harus diperbuat, apa menunya dan apa saja agendanya, hingga saat terakhir.

Alhasil, di hari H yang notabene merupakan bulan Ramadhan, sejak pagi makanan sudah tersedia di pantry yang memang didesain menjadi bagian dari workplace kami. Sebagai muslim saya sudah ingatkan bahwa hal seperti ini provokatif dan tidak pantas karena 80% dari staff adalah muslim dan berpuasa. Tapi dia cuek. Kami pun tidak tau persis apa menunya, namun sempat saya dengar ada Opor Ayam dan Sambal Goreng Ati. Si boss memang menanggung lebih dari separuh biaya, dan mengatur semuanya, dari menu hingga catering dan layout ruangan serta rundown acara. Ya sudah, kami terima beres saja. Saya sempat sampaikan bahwa kami sebagai muslim disarankan berbuka tidak dengan makanan besar namun sebatas minuman manis hangat dan makanan kecil yang manis, agar perut tidak bekerja berat setelah berpuasa. Tapi dia tampak masa bodoh.

Selepas tengah hari, saya lewat pantry bersama seorang kawan dan kami berdua merasakan aroma tidak lagi sesedap pagi hari, saya ingatkan si boss bahwa ada resiko makanan basi. Tapi dia tetap aja cuek. Rupanya kekhawatiran kami berdua terbukti, sore hari, satu jam menjelang berbuka, aromanya mulai menusuk dan terasa mengganggu bagi staff di sekitar pantry, dan mereka mengeluh. Kembali kami sampaikan, dan dia tetap cuek, bahkan agak sewot. Rupanya beberapa staff sudah sampaikan hal serupa dan itu terasa mengganggu kewibawaannya mungkin. "Masa makanan bawaan big boss basi sih ? Yang bener aja…"

Tibalah saat berbuka dan makanan mulai dibuka tutupnya. Dengan sumringah si boss suruh semua staff berkumpul dengan suara lantangnya. Oh iya si boss ini jika bicara suaranya dibesar-besarkan agar semua orang tau apa yang dibicarakan, sok penting sekali lah… Kami para manajer berdiri di belakangnya dengan menahan napas karena aroma yang menusuk. Tak lama ia memanggil seorang manajer dan dua supervisor, dimana ketiganya adalah begundal setia sang boss. "Makanan ready ya ? Gak ada yang masalah kan ?" tanyanya. Ketiganya Cuma senyum dan mengangguk, malah salah satu supervisor berkata, "Aromanya aja udah nikmat banget nih mbak, gak tahan rasanya". Dasar penjilat…

Segera si boss dengan aneka bla bla bla welcome speech serta gaya keminternya pidato… bahagia sekali dia tampaknya apalagi saat CEO baru berterimakasih padanya dan kelihatannya si boss tidak memperhatikan kalau si CEO sudah beberapa kali tutupi hidung pakai sapu tangannya… Daaan tibalah saat tersebut…. Begitu dibuka tutup makanan, aroma menyengat langsung merebak ke seluruh ruangan di lantai tersebut (kami gunakan seluruh lantai untuk unit kerja kami). Sejumlah staff mulai terbatuk-batuk, beberapa spontan bergerak mundur bahkan menutup hidungnya… saya mulai tertawa sebenarnya. Tapi ini bukanlah 'the best part'

Si boss cuek aja dan dengan lantang memanggil satu persatu manajer dan supervisor untuk ambil makanan di hadapan dia. Intimidatif sekali. Saya yang berdiri persis di belakangnya ada di urutan kedua dan saya bilang "saya tidak makan berat untuk berbuka, dan tampaknya tidak segar, bahaya untuk perut saya" lalu saya tinggal pergi untuk ambil teh hangat sambil terkikik… namun kolega-kolega manajer lain tampak kepayahan untuk menolak (dan mereka semua bukan muslim). Mereka tampak berat hati sendokkan lauk basi itu ke piringnya… dan tibalah giliran para supervisor, barisan penjilat. Mereka berusaha tegarkan hati dan paksakan ambil lauk basi tersebut. Gilanya si boss sempat lho tanyai satu persatu "enak kaaan ?" dan mereka kompak berseru "enaaaaaakkkkk…..". Mampus deh. Lebih gilanya lagi ia serukan ke para manajer dan supervisor itu untuk suruh anak buahnya ambil yang banyak dan habiskan makanan karena "dosa membuang rejeki" serunya. Mereka pun refleks langsung menyeru ke anak buahnya tanpa ada perlawanan sedikitpun. Dasar bodoooooh…..

Berikutnya yang tertinggal adalah episode kebodohan massal, dimana si boss bagaikan mandor berkeliling ruangan memastikan semua piring sudah memuat lauk tsb dan dihabiskan. Ia sendiri cukup konsisten dimana seperti biasa ia makan dalam porsi banyak dan mengambil cukup banyak lauk basi tersebut dan…… habisss !!! Si boss tampak marah besar liat saya dan anak buah saya hanya minum teh manis panas, makan kurma yang kami beli sendiri di toko di basement gedung serta kue2 kering yang disajikan sambil tertawa renyah dan berbincang satu sama lain seolah-olah tidak menggubris acara ini. Lah memang kami gak pernah dikasih tau kan acara ini untuk apa dan apa maksudnya ?

Hari H itu adalah hari Jumat. Dan, pada minggu sesudahnya, hingga hari Selasa bahkan Rabu, unit kami mengalami masalah dengan down capacity karena banyaknya staff yang tidak masuk karena sakit. Keluhan mereka umumnya sama : diare, keracunan, muntah-muntah….

Dan, beberapa bulan sesudahnya, beberapa dari kami, di tingkat manajer maupun supervisor, sudah tidak ada di posisinya. Si boss dengan sesukanya mendorong bawahan yang tidak disukainya keluar tanpa belas kasihan. Menolak atau menentang ? Akan ada konsekuensinya. Aneka jebakan akan dibuat, dan konsekuensinya adalah dipecat untuk kesalahan yang tidak dilakukan namun tampak sebagai kesalahannya. Semua pengorbanan dan penjilatan anak buah tidak satupun yang diingatnya. Dan, saya yakin, semua boss yang senang dijilat, pasti senang menjilat seperti boss ini, dan pasti pula dia tidak pernah mau dan mampu mengingat semua penjilatan yang dia lakukan atau dilakukan anak buahnya ke dirinya.

Ada yang sepakat dengan saya untuk "jadikan menjilat sebagai kejahatan profesional" ?

Saturday, May 8, 2010

One Day In Their Life - Pengantar

Meminjam judul salah satu lagu favorit saya dari si raja pop almarhum, "One Day In Your Life", namun kali ini saya tujukan untuk banyak orang, jadi "One Day In Their Life".

Siapa orang-orang ini ? Mereka adalah para profesional dan tokoh yang amat beruntung kenal saya… tepatnya saya yang amat beruntung bisa mengenal mereka. Suatu hari dalam kehidupan mereka saya coba 'intip' dan sajikan dalam suatu tulisan pendek serupa jurnal ringkas aktivitas harian mereka. Tentu tidak mudah meminta persetujuan mereka, dan atas alasan itulah saya memang tidak meminta secara khusus ijin mereka ha ha…

Mereka adalah rekan-rekan saya, kolega atau mantan kolega saya di perusahaan terdahulu, rekan kuliah baik di strata satu maupun di strata dua, teman diskusi di komunitas profesional maupun lingkup pergaulan sosial. Beragam latar belakang mereka, namun ada satu kesamaan : kesuksesan mereka. Mereka relatif sukses menurut ukuran saya. Dan dalam banyak hal saya memperoleh pencerahan atau bahkan pelajaran dari sikap hidup dan tindakan mereka. Pengamatan yang saya lakukan adalah dalam rentang waktu yang panjang, dan itulah yang ingin saya bagi ke Anda semuanya. Presenting : One Day In Their Life.

Have a nice read !

Saturday, April 10, 2010

Karyawan Sontoloyo (lagi) – part 2 : Disponsori Kantor ?

Thanks for being here here and stay tune. Karyo (karyawan sontoloyo) topic is back. Anyway, sebut nama Karyo koq saya teringat dengan lakon mas Karyo di sinetron seri popular Si Doel Anak Modern. Karakter mas Karyo memang menggambarkan kesontoloyoan dan sukses diperankan oleh Basuki pelawak alumnus pabrik tawa Srimulat.

Soal disponsori kantor, memang aneh, tapi nyata. Dalam bentuk apa kantor mensponsori anda ? Kita coba balik arah penerawangan kita. Mari kita bayangkan kita memulai suatu usaha dan otomatis ada tiga pertanyaan umum yang muncul : dimana lokasinya ? siapa pengelolanya ? bagaimana kita bertransaksinya ? Satu per satu kita coba telisik. Menyewa lokasi adalah yang paling umum. Di daerah tempat tinggal saya di kawasan cipete, ruang usaha minimalis ex garasi ukuran 3 x 5 meter sudah bernilai Rp 15 juta per bulan, hanya ruangan plus gembok thok. Itu pun belum dirapikan dan masih kumuh, apa adanya banget.

Lalu pengelola usaha, tetangga saya kemarin buka usaha laundry kiloan di dekat rumah sini dan pekerjakan tiga pemuda tanggung putus sekolah. Selain sediakan makan siang, uang saku Rp 25 ribu per hari harus dibayar, plus gaji pokok sebesar Rp 400 ribu per bulan per orang. Artinya total pengeluaran sekitar Rp 1 juta per orang jika masuk 24 hari sebulan (di luar free lunch). Media transaksi, teman saya tersebut beli cash register bekas di Pasar Saharjo dekat Tebet plus aneka pernak pernik per-kasir-an total senilai Rp 2,3 juta sudah sekalian pasang. Jadi modal awal untuk sewa dan mesin kasir adalah Rp 17 juta lebih karena sewa harus dibayar di muka.

Bandingkan dengan usaha seseorang kawan yang saya kenal baik. Menjalankan usaha penjualan pernak pernik asesoris dan daster dari kampungnya di Bali, ia menghabiskan seminggu bergadang membangun toko virtual di internet, membeli space dan domain yang dibayarnya kurang dari Rp 300 ribu untuk setahun, serta melakukan perjalanan ke kampung halamannya saat berhari raya untuk mengembangkan jaringan. Diperoleh empat supplier utama, kesemuanya teman bermain saat kanak-kanak yang kurang beruntung untuk melanjutkan pendidikan. Lalu diperoleh mitra untuk melakukan delivery. Cukup dengan e-mail atau SMS maka mitra tersebut bersedia menjemput barang yang akan dikirim di supplier dan mengirimkannya. Tagihan dikirimkan setiap dua mingguan dan langsung ditransfer via ATM.

Dimana ia menetapkan domisili usahanya ? Saat ditanya dia nyengir. "Ada di tiga tempat. Di hape saya, di awan sana (internet maksudnya) dan di sini (sambil menunjuk jempol kakinya)". Maksudnya ? Ya kantor itu lah lokasi usahanya. Order diforward ke alamat e-mail yang khusus dibuatnya dan ke alamat e-mail kantor, sehingga 24 jam sehari bisa memantau order dan melakukan follow up segera. Untuk mengawasi toko, layaknya pemilik toko, jam istirahat dimanfaatkan untuk menelusuri internet dan memeriksa toko virtualnya.

Masalah komunikasi ? Hari begini, modal hape dual SIM sudah cukup. Fax ? Jarang dibutuhkan, kalaupun terpaksa, kantor tempatnya bekerja sudah menyediakan fax tersebut. Terakhir, pencetakan slip atau kwitansi, bukan hal sulit. Kantor tempatnya bekerja sudah menyediakan PC plus printer. Umumnya dokumen-dokumen tersebut dikirim melalui e-mail. Jikalau pun terpaksa, cukup dicetak di printer. Ia sudah menyediakan kertas kop khusus. Lalu dikirimkan via kantor pos kecil di basement gedung kantornya bekerja. Praktis. Tidak ada biaya tetap (fixed cost) dan tidak ada investasi awal yang menggetarkan jiwa. Ide dan kreativitas modalnya.

Berapa omzetnya ? Bulan pertama "hanya" dua belas juta Rupiah saja, sekitar dua kali gajinya. Di bulan ke enam, sudah mulai stabil di angka dua puluh lima hingga tiga puluh juta Rupiah. Mana cukup untuk bayar sewa, pegawai, sediakan makan siang dan uang saku, lalu urus aneka peralatan kantor ? Untung dapat sponsor. Kantor tempatnya bekerja.

Karyawan Sontoloyo

Kata "Sontoloyo" cenderung bernuansa negative mengikuti kaidah bahasa Jawa. Itu bisa berarti orang yang aneh, menyebalkan atau justru payah dalam konteks kualitas kerja atau tindakan yang rendah. Tentu karyawan sontoloyo dapat diartikan sebagai karyawan yang payah, menyebalkan atau aneh. Istilah ini saya peroleh dari Edi, seorang superkocak yang memperoleh berkah luar biasa dari Yang Maha Kuasa berupa kesempatan menjadi boss saya selama dua tahun lebih. Saya memperoleh pemahaman yang berbeda atas kata sontoloyo dan frase karyawan sontoloyo dari beliau.

Kalau saya tidak salah, frase itu diperolehnya dari suatu buku saku mengenai tips dan trik menjadi karyawan yang bermental survivor di lingkungan dunia kerja yang serba semrawut dan penuh hipokrisi. Saya sempat membaca beberapa halaman, dan langsung dapat mengamini kiat-kiat yang disampaikan. Tapi Boss Edi, mencoba memperluas pemahamannya atas frase tersebut, menjadi "karyawan yang bukan cuma survive di dunia kerja yang semrawut dan boss yang menyebalkan, tapi juga aman secara finansial dan independen atas ketergantungan terhadap perusahaan dalam konteks harga diri maupun kontribusi". Njlimet ? Tidak kok….

Kami banyak berdiskusi sesudahnya, dan memang hanya beliau yang melakukan langkah nyata, kerja sesantai mungkin, tidak ambisius, mengalir bagai air, dan menumbuhkan gairah serta kreativitas luar biasa untuk berkarya di luar kantor, sebagai trainer, pengusaha kecil dan konsultan. Dia menjadi amat sontoloyo bagi para boss yang merasa dia bisa memberikan 200% dari kontribusinya saat ini ke kantor. Tapi dengan apa yang sudah diberikannya pun ia berargumen bahwa sudah sesuai target. Lalu apa yang akan saya dapat jika saya berikan 200% ? Lebih besarkah yang diberikan perusahaan, atau lebih besar hasil investasi waktu dan ide di luar kantor ?

Dia benar. Sepenuhnya benar. Apapun model bisnisnya, perusahaan adalah wujud kapitalisme. Bukankah mendirikan perusahaan wajib menyetorkan modal ? Dan modal dalam sejumlah bahasa asing disebut 'Capital' ? Tentu pemilik modal akan memberikan remunerasi dan kompensasi kepada pekerjanya, orang-orang yang mengurus perusahaan dan menjalankan usahanya. Namun, tentu tidak akan terpikir sedikitpun untuk menempatkan profitabilitas pekerjanya di atas prioritas profitabilitas pemilik modal. Dalam arti, secara bahasa sederhana disebutkan "tidak akan bisa kaya sekali jika menjadi pegawai". Kecuali, ini baru ketahuan akhir-akhir ini, jika anda menjadi pegawai Pajak dan suka menyelewengkan wewenang anda tentunya.

Maka, mulailah berpikir sesuatu dan menimbang untung rugi untuk seia sekata dan membaktikan seluruh diri anda, kreativitas dan ide anda, semangat dan gairah anda, waktu dan fokus anda, kepada perusahaan. Namun, ada cara yang smart dan ringkas ketimbang anda harus wujudkan perusahaan anda sendiri. Tulisan saya berikutnya akan menjelaskan, bagaimana perusahaan anda sekarang menjadi "sponsor" dari pendirian usaha baru milik anda. Usaha yang 100% milik anda, anda kendalikan sepenuhnya, anda raup seluruh profit yang dihasilkan, dengan pengorbanan yang seminimal mungkin karena adanya sponsor.

So, just be there and we will be right back after a cup of coffee. Stay tune.