Friday, July 27, 2012

Faktor Kesuksesan Menurut Matriks Kesadaran dan Kompetensi


Di suatu penerbangan dari Bali menuju Jakarta, saya membaca di majalah yang disediakan maskapai tersebut suatu artikel mengenai pengembangan diri berbasis kesadaran akan kemampuan. Disebutkan bahwa setiap manusia untuk setiap hal akan melalui empat fase berikut ini :
  1. Unconscious Incompetence ; fase dimana seseorang tidak menyadari bahwa dirinya tidak mampu melakukan suatu pekerjaan
  2. Conscious Incompetence ; fase dimana seseorang menyadari bahwa dirinya tidak mampu melakukan suatu pekerjaan
  3. Conscious Competence ; fase dimana seseorang menyadari bahwa dirinya mampu melakukan suatu pekerjaan
  4. Unconscious Competence ; fase dimana seseorang tidak lagi menyadari bahwa dirinya mampu melakukan suatu pekerjaan

Disebutkan contoh terbaik dan paling umum adalah mengemudikan mobil. Awalnya saat kita merasa belum perlu mengemudikan mobil (bisa karena memang tidak perlu atau karena memang belum punya mobil), maka kita ada di fase pertama : kita tidak menyadari bahwa kita tidak mampu mengemudikan mobil. Kemudian pindah rumah dan membeli mobil, ada kebutuhan atau "desakan", maka ini yang akan sadarkan diri bahwa kita harus bisa mengemudikan mobil, maka ada di fase kedua : kita tersadar bahwa kita tidak mampu mengemudikan mobil.

Setelah berlatih dan memiliki persyaratan yang dibutuhkan, jadilah kita seseorang yang bisa, bahkan cakap, untuk mengemudikan mobil. Pada titik ini maka kita ada di fase ketiga : kita sadar sepenuhnya bahwa kita mampu mengemudikan mobil. Lama sesudahnya, kita menjadi fasih mengemudikan mobil, bahkan dari berbagai tipe mobil dengan variasi teknisnya serta aneka rintangan yang ada di jalan raya. Disini kita ada di fase terakhir : kita tidak sadar bahwa kita mampu mengemudikan mobil. Apakah saat ini bagi Anda yang rutin mengemudikan mobil menggunakan pikiran sadar "ooh saya harus injak kopling sebelum memindahkan gigi" ? Atau pikiran "wah kendaraan di depan amat lambat, mungkin dengan menambah gas maka saya akan lebih cepat dan bisa mendahuluinya"... Tidak seperti itu bukan ? Semua berjalan dengan instink, dan pikiran baru digunakan saat kondisi bukan suatu yang rutin, misalkan macet, Anda berpikir "apakah lewat situ lebih lancar ?".

Dalam pekerjaan dan kaitannya dengan keahlian atau kompetensi teknis apalagi manajerial, keempat fase tersebut amatlah relevan. Kita melihat bahwa titik paling diharapkan adalah di fase keempat. Namun titik kritis sebenarnya adalah saat perpindahan dari fase pertama ke fase kedua. Begitu banyak orang di sekitar kita yang tidak merasa perlu untuk berubah sekalipun perubahan tersebut sudah mendesak. Kesadaran tidak kunjung muncul bahwa ia tidak kompeten di area tersebut dan harus melakukan sesuatu agar dirinya berubah menjadi kompeten. Apalagi jika sudah berada di zona nyaman, sudah hampir pasti kesadaran itu akan sulit muncul.

Pribadi yang unggul adalah pribadi yang melampaui keempat fase tersebut. Ia menjadi pribadi yang sadar sepenuhnya akan kekurangan, lalu memperbaikinya, menjadi ahli di bidang tersebut dan secara naluriah mengimplementasikan keahlian tersebut di berbagai bidang dan tantangan yang dihadapinya. Diibaratkan ia memiliki suatu senjata yang mumpuni dalam bertarung. Namun, semua orang akan terdorong untuk demikian bukan ? Lalu dimana faktor pembeda antara si sukses dengan si biasa-biasa saja ?

Akhir-akhir ini dikembangkan wacana dan teori mengenai fase kelima, yaitu "Conscious Competence of Unconscious Competence". Suatu kemampuan untuk menyadari bahwa ia (mungkin) memiliki potensi/kompetensi yang tidak (atau belum) disadarinya. Siapapun yang sampai di titik ini dan melakukan sesuatu yang ekstra untuk mengetahui apakah potensi/kompetensi yang belum disadari tersebut, akan memperoleh "tambang emas" dalam dirinya. Inilah menurut banyak pendapat para ahli psikologi dan manajemen yang menjadi pembeda antara para pribadi unggul dengan pribadi sukses.

Menjadi unggul saja tidaklah cukup. Penting bagi kita untuk mempertahankan keunggulan ini secara konsisten, lalu menciptakan faktor pembeda, differentiating factor. Bukankah ahli manajemen Jack Trout sudah lama menggaungkan "Differentiate or Die" ? Tanpa faktor pembeda ini kita hanya akan menjadi si biasa-biasa saja.

Siapkah Anda untuk menjelajah ke fase kelima ini ?

on twitter @katjoengkampret | e-mail : katjoengkampret@aol.com

Tuesday, July 17, 2012

Berpikir Seperti Orang Sukses


Ingin sukses ? Siapa yang tidak ?

Tapi apa ukuran sukses yang dipakai ? Banyak, bisa apa saja, dan sebaiknya Anda tetapkan kriteria tersebut sesuai dengan nilai yang Anda percayai.

Lalu bagaimana cara menuju sukses ? Banyak, tapi kita mulai dari berpikir seperti orang sukses. Apa saja tuh ? Coba simak Magnificent Seven Tips berikut ini :

1. Memaksimalkan hal positif dan meminimalkan hal negatif

Orang sukses umumnya pandai dan jeli dalam menilik mana hal yang baik dan yang tidak, namun lebih jauh lagi, mereka tidak menolak atau menerima begitu saja. Orang sukses tidak menyalahkan siapapun atas hal yang negatif, mereka melakukan hal yang konstruktif dengan mereduksi dampaknya dan menjadikan hal negatif sebagai komponen penyeimbang. Di sisi lain, mereka selalu berusaha mencari celah untuk menjadikan hal positif menjadi semakin menguntungkan.

Lalu apa bedanya dengan mereka yang tidak sukses ? Si loser umumnya sibuk meratapi dan menyalahkan aneka pihak atas hal negatif dan membiarkan dirinya "tergulung" dampak negatif tersebut, bahkan sampai lupa untuk memaksimalkan potensi dari hal positif. Seringkali malah mereka tidak tahu ada hal yang positif.

2. Mengembangkan spiritualitas diri

Tidak bermaksud mengasosiasikan poin ini dengan religiusitas, namun faktanya nyaris tiap orang sukses memiliki aspek spiritualitas yang kental. Selalu muncul aspek spiritual dalam langkah-langkah yang diambil, dan ujungnya menciptakan ABC (attitude-behavior-character) yang unik, menarik dan mendukung kesuksesannya.

Sementara bagaimana dengan mereka yang tidak sukses ? Disebutkan 5 sikap umum para pecundang : harga diri yang terlalu tinggi, negatif dan pesimistis, di sisi lain arogan dan sombong, merasa sukses dan kegagalan tidak terkait dengan Yang Maha Kuasa, serta keserakahan dalam berbagai bentuk dan tingkatan.

Pernah mendengar bahwa orang sukses umumnya (diam-diam maupun terbuka) memiliki jiwa sosial yang tinggi dan idealisme dalam menyikapi kesuksesannya dalam bentuk keinginan berbagi dan menjadikan orang lain sukses pula ?

3. Percaya pada diri sendiri

Tidak ada orang sukses yang tidak percaya diri. Mungkin ada si sukses yang pemalu dan tertutup, tetapi mereka bukanlah orang yang tidak percaya diri. Kita tengah ramai membahas kemenangan Jokowi di putaran pertama pemilihan gubernur baru-baru ini. Wakilnya menyebut bahwa sosoknya adalah amat sederhana, santun, cenderung tidak menonjol dan tidak suka menonjolkan diri, serta tidak sadar jika ia pintar. Bahkan seringkali tidak meyakinkan tetapi ia sendiri yakin akan gagasannya. Faktanya : nyaris semua gagasannya terlaksana dengan baik dan berbuah manis di pemerintahannya di lingkup kota Solo.

Saat seseorang tidak percaya diri, ia cenderung menjadi defensif, menarik diri, negatif, pesimis dan bahkan mencari pembenaran atas kemunduran sikapnya. Inilah ciri yang paling mudah ditemui dari mereka yang tidak sukses. Mereka selalu sukses mencari alasan untuk kegagalan atau ketidakmajuan mereka. Sukses yang negatif !

4. Membangun reputasi dan 'brand'

Reputasi dan brand yang dimaksud tentu adalah dalam konteks yang positif dan membangun. Keduanya terbangun di atas ABC (attitude-behavior-character) yang baik dan kuat. Nyaris semua orang sukses memiliki sikap yang progresif dan positif, memiliki kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif dan optimis, serta memiliki karakter yang kuat dengan dukungan nilai-nilai yang positif. Secara perlahan dan tidak disadari, semua hal tersebut sebenarnya menjadi suatu "merek" yang akan berperan besar dalam kesuksesan seseorang.

Bagaimana dengan para pecundang ? Umumnya terasosiasi dengan reputasi dan merek sebagai pemalas, sedang-sedang saja, suka menunda, seadanya.... dan parahnya selalu memiliki alasan untuk menjustifikasi cap buruk yang melekat pada diri mereka.

5. Berpikir terbuka, optimis dan realistis

Siapa yang bisa menerima ide bahwa manusia bisa terbang ? Manusia bisa menyelam hingga kedalaman ribuan meter ? Manusia bisa mendarat di bulan ? Tidak ada satupun di masa-masa dimana gagasan itu awalnya dikemukakan secara terbuka. Kemampuan berpikir terbuka atas segala kemungkinan dan masukan, dikombinasikan dengan sikap optimis yang realistis secara konsisten akan menggiring ide yang paling liar sekalipun untuk dapat diterima dan diwujudkan.

Ingat cerita Colombus dan telurnya ? Bahkan saat Colombus berhasil menunjukkan cara mendirikan telur rebus pun lawan-lawannya masih berseloroh "jika demikian maka kita juga bisa". Itulah sebabnya kita mengenal nama Colombus dan tidak mengenal satupun nama dari 12 orang penentangnya tersebut.

6. Win-win Solution secara persisten

Tidak ada yang suka kalah dan dikalahkan. Dan tidak ada yang bisa sukses sendirian selamanya. Kedua hal itu menjadi dasar mengapa kita harus selalu persisten dan konsisten untuk mengupayakan solusi terbaik bagi semua pihak. Untuk apa ? Agar tidak ada yang merugi, dan tidak ada yang tidak didukung. Yang harus dihindarkan adalah kemenangan besar hari ini untuk kalah besar esok hari. Sialnya saat kita kalah besar esok hari tidak ada tangan yang bisa menarik diri kita untuk bangkit kembali. Mengupayakan win win solution secara persisten akan menggiring semua pihak membentuk aliansi yang strategis dan positif, karena sama-sama merasakan manfaat berinteraksi dengan diri kita.

7. Melayani sembari mengembangkan value

Nyaris semua orang sukses memiliki kunci kesuksesan yang sama : melayani dan mengembangkan value. Apapun pekerjaan, bidang usaha dan keahlian kita, pada dasarnya ditujukan untuk melayani dan memberikan nilai tambah. Bahkan seorang presiden pun sebenarnya bertugas melayani rakyatnya dalam pengelolaan negara bukan ?

Arogansi dan aneka keengganan untuk melayani hanya akan memperburuk keadaan dan mempersulit jalan seseorang menuju sukses. Dan ini adalah salah satu ciri yang paling mudah ditemui di mereka yang menjadi pecundang. Ada yang pernah melihat pengamen yang serius, berusaha merdu dan tampil sopan serta simpatik memperoleh imbalan sukarela yang lebih besar dan diberikan dengan senyum dari pemberinya ?

Wednesday, July 4, 2012

Mau Pindah Kerja : Perhatikan Nego Gaji & Benefit ! - Part 1


Siapa sih yang tidak mau punya pekerjaan yang asik, suasana kerja yang asik dan lingkungan kerja yang kondusif ? Apalagi disertai dengan atasan yang konstruktif, job description yang jelas, job target yang fair dan team kerja yang optimis dan positif ? Eiitssss nanti dulu. Jangan lupa : gaji dan benefit ! Jangan sampai kita lupa akan negosiasi gaji dan benefit yang pantas untuk pekerjaan baru tersebut. Lalu seperti apakah "pantas" itu sebaiknya ?

SKEMA GAJI

Ada tiga detail penting saat negosiasi gaji, menyangkut skema pembayaran gaji, yaitu :
(1) Apakah gaji pokok yang dibayarkan adalah 'net after tax' ataukah masih gaji pokok kotor 'gross before tax' ? Besar lho komponen pajak penghasilan itu...
(2) Apakah gaji pokok itu dibayarkan sebagai komponen terintegrasi ataukah dipecah atas dasar gaji bulanan dan insentif periodik ? hati-hati... ini jebakan !!!
(3) Apakah ada klausula kontrak kerja atau penawaran kerja yang mengharuskan Anda membayar jumlah tertentu saat Anda pindah kerja ke tempat lain ?

Merujuk kepada item nomor dua di atas, sebaiknya Anda berhati-hati. Sejumlah perusahaan, terutama perusahaan lokal, mulai mengakali perpajakan dan beban tenaga kerja mereka dengan skema split compensation. Seperti apa itu ? Misalkan di perusahaan lama Anda memperoleh gaji net Rp 4 juta/bulan. Setahun Anda akan memperoleh kompensasi net sebesar Rp 4 juta x 13 (karena ada THR kan ?) = Rp 52 juta.

Di perusahaan baru Anda memperoleh gaji net Rp 4.8 juta/bulan dengan skema split compensation : 75% sebagai monthly salary dan 25% dibayarkan setiap 3 bulan sebagai "quarterly incentives". Apa yang terjadi ? Setiap bulan Anda akan menerima hanya Rp 4.8 juta x 75% = Rp 3.6 juta --> atau anda turun gaji Rp 400 ribu/bulan atau 10%. Dan dalam perhitungan bonus atau insentif lainnya, maka yang diperhitungkan sebagai faktor gaji pokok adalah Rp 3.6 juta, BUKAN yang Rp 4.8 juta !!!

Sementara soal item nomor tiga, umumnya terjadi jika ikatannya berupa kesepakatan kerja waktu tertentu (KKWT). Jadi misalkan ikatan kerja Anda berupa KKWT untuk 12 bulan, lalu perusahaan memberhentikan Anda di bulan ke 7, maka Anda berhak memperoleh pembayaran utuh untuk 5 bulan sisanya. Dan sebaliknya, jika Anda berhenti kerja untuk pindah ke perusahaan lain di bulan ke 9, maka Anda akan wajib membayar denda sebesar 3 bulan gaji Anda di sisa masa kontrak. Jangan sampai terlewatkan klausula ini karena ini adalah bentuk kesepakatan kerja sepihak yang banyak digugat. Jangan sampai terjebak pada klausula ini di kontrak Anda.


SALARY INCREASE

Dalam berhitung salary increase di Indonesia, cukup pelik. Mengapa ? Karena faktor inflasi yang menteror finansial kita dan perusahaan. Walaupun pemerintah sibuk berkoar tingkat inflasi hanya 6-7% saja per tahun, realitanya itu memperhitungkan ratusan faktor, termasuk harga kol gepeng, wortel, telur dan daging sapi segala. Kita tidak gitu-gitu amat kan ? Kalkulasi wajar untuk masyarakat kelas menengah di kota besar Indonesia, tingkat inflasi wajar sebenarnya antara 12-15% per tahun !!!

Artinya, jika perusahaan bermurah hati berikan Anda kenaikan gaji tahunan berbasis merit increase on living cost adjustment sebesar 10% sebenarnya Anda malah minus. Daya beli Anda berkurang antara 2-5%. Makin lama Anda bekerja di suatu perusahaan, makin tekor dan makin miskin Anda secara konsep moneter.... Untuk itu disarankan berpindah kerja setiap 3-4 tahun, dan atau memperjuangkan promosi setiap periode tersebut agar Anda dapat mengalahkan teror inflasi tersebut.

Maka, jika Anda pindah kerja setelah 4 tahun, Anda sebenarnya tergerus inflasi tahunan 15% akumulasi 4 tahun atau sebesar 74.9%. Katakan rata-rata setiap tahun Anda naik gaji 10% saja (dan Anda sudah tersenyum lebar karenanya), maka dalam 4 tahun akumulasi kenaikan pendapatan Anda cuma 46.4% saja. Artinya Anda bekerja 4 tahun di perusahaan itu Anda bertambah miskin 28.5%. Padahal pastinya target Anda ditambah terus tiap tahun kan ?

Saat Anda pindah kerja dan nego gaji, pastikan gaji baru Anda mampu menutup gap ini PLUS ekspektasi nilai tambah yang wajar atas perpindahan kerja ini. Jadi misalkan Anda merasa kepindahan Anda ini layak dihargai dengan kenaikan daya beli finansial sebesar 20% maka angka besaran gaji baru yang Anda harus perjuangkan minimal adalah sebesar 28.5% (inflation gap) + 20% (expectation gap) = 48.5%. Jadi Anda tidak boleh menerima gaji baru sebesar kurang dari 148.5% dari gaji lama Anda. Kecuali, di tempat kerja baru Anda sudah tidak nyaman, boss sialan, atau ada boss baru yang sok tau, atau ada ancaman perampingan karyawan dll.

Selamat berhitung !

Bagian berikutnya :
        BENEFIT WAJIB
                Kesehatan
                Pensiun
                Asuransi Sosial

        POTENSI BENEFIT TAMBAHAN
                Study Benefit
                Vacation Allowance
                Performance Bonus
                Annual Merit Increase
                Assignment Allowance
                Asuransi Jiwa
                Family Benefit
               Relocation & Promotion

Tuesday, July 3, 2012

Inner Circle


Sebuah kalimat nasehat di dunia barat berbunyi "Anda adalah dengan siapa Anda bergaul". Sementara sebuah pemeo bisnis yang cukup populer menyebutkan bahwa "Diri Anda dan kepribadian yang ada dalam diri Anda adalah kombinasi dari kepribadian dan pengaruh dari lima orang yang terdekat dengan Anda". Setuju ? Silakan, juga jika Anda tidak setuju tentu sah-sah saja. Namun saya pribadi meyakini kebenaran kedua kalimat tersebut.

Pertanyaan yang hendak kita coba jawab sebenarnya bukan benar tidaknya kedua nasehat tersebut melainkan "Seperti Apa Sebaiknya Teman Yang Kita Pilih ?" sehingga kita bisa menjaga bahkan meningkatkan kualitas hidup kita baik secara emosional, psikologis dan kehidupan keseharian kita.

Merujuk pada nasehat kedua, dimana disebutkan keberadaan "lima orang yang terdekat dengan Anda", bisa jadi tidak terbatas pada teman semata, namun bisa pula saudara, kekasih, pasangan hidup atau bahkan orang tua. Psikolog sering menyebutkan orang-orang terdekat ini sebagai 'Inner Circle" atau lingkaran terdalam. Bahkan lebih ekstrem lagi seorang artis malah memasukkan anjing peliharaan di inner circle-nya, sekalipun tentunya seekor anjing bukanlah manusia. Lalu kualitas apa yang sebenarnya dicari dan sebaiknya kita coba tetapkan dalam kriteria mencari "inner circle" yang sehat ?

1. Yang Memberikan Rasa Aman

Sahabat sejati dan pribadi yang sebaiknya kita pilih masuk ke dalam inner circle kita adalah pribadi yang mampu memberikan rasa aman. Aman tidak hanya sebatas terlindung dari ancaman fisik, namun jauh lebih penting membantu kita terlindung dari ancaman psikologis dan tekanan emosional. Pihak-pihak yang siap membantu Anda untuk menjadi sumber informasi, saran konstruktif dan sekedar mendengarkan dengan atensi akan ancaman atau ketidaknyamanan yang Anda rasakan, adalah mereka yang pantas dimasukkan ke inner circle Anda. Bukankah menurut Abraham Maslow rasa aman termasuk kebutuhan prinsip tiap makhluk hidup ?

2. Yang Menenteramkan dan Memberikan Rasa Nyaman

Inner circle bisa diibaratkan "gua perlindungan" atau "sarang" virtual bagi sosok emosional dan spiritual Anda. Anda harus merasa nyaman dan tenteram saat sedang get along dengan para member inner circle Anda. Bahkan Anda tidak perlu berhadapan muka secara langsung, tetapi sekalipun terpisah jarak yang jauh dan Anda tetap berhubungan atau kontak dengannya Anda sudah merasa nyaman, senang dan tenteram, maka pantaslah Anda dan dirinya saling menjadikan sebagai Inner Circle. Saya pribadi beranggapan orang tua harus masuk kriteria ini (dan juga kriteria pertama tadi) sebagai syarat menjadi Inner Circle bagi anak-anaknya.

Bagaimana halnya jika Anda merasa was-was, tidak bisa percaya atau merasa dipercayai, dan tidak merasa dihargai saat berdekatan atau bahkan saat Anda tengah membayangkan suatu acara di akhir minggu dengan seorang sahabat Anda misalnya ? Cukup jelas, ia tidak layak Anda masukkan sebagai inner circle Anda lagi.

3. Yang Membuat Anda Merasa Berharga dan Dihargai

Basis paling dasar dari suatu hubungan antar manusia adalah rasa saling percaya dan rasa saling menghargai. Sedikit saja rasa percaya dan saling menghargai ini ternoda maka akan sulit untuk mempertahankan suatu hubungan. Inner circle Anda haruslah orang-orang yang mampu membuat Anda merasa dipercaya, dan tentu orang-orang yang mempercayai Anda sepenuh hati dengan tulus. Juga mereka adalah orang-orang yang menghargai Anda dan sebaliknya Anda hargai dengan tinggi. Seseorang yang membuat Anda merasa bernilai, dan sebaliknya memiliki nilai tinggi dalam kehidupan Anda.

Bagaimana jika nilai-nilai di atas tidak terpenuhi ? Ya mudah saja, itu bukan lagi layak dimasukkan sebagai inner circle Anda. Dan jangan salah, amat banyak pasangan yang menikah dan terikat secara hukum bahkan tidak memiliki nilai-nilai di atas dalam hubungan mereka sebagai manusia satu sama lain. Menyedihkan bukan ? Terbayang seperti apa 'mental state' mereka, bertahun-tahun hidup dan tinggal dengan orang yang tidak lagi berbagi rasa percaya, hormat dan menghargai.....

4. Yang Mengobarkan Semangat dan Optimisme

Seorang yang terdekat dengan Anda,s iapapun dia dan apapun statusnya, haruslah seseorang yang mampu menjadikan Anda binatang buas yang siap menerkam buruan Anda. Seseorang yang mampu menjadikan Anda sebuah pribadi yang tidak mudah patah, pejuang sejati dan petarung tangguh yang selalu optimis. Ia harus menjadi orang yang membantu Anda bangkit tiap kali Anda jatuh, memecut Anda tiap kali Anda melambat, dan menahan diri Anda tiap kali Anda terlihat oleng.

Tentu, agar mampu menjadi pribadi yang demikian bagi orang lain, maka orang-orang tersebut haruslah pribadi yang kuat, penuh semangat, optimis dan memiliki mentalitas kerjasama dan setia kawan yang tinggi. Sangat tidak disarankan bergaul, apalagi bergaul dekat, dengan orang-orang yang berkepribadian lemah, tidak bersemangat, berprasangka buruk, pesimis dan bersikap negatif serta tidak memiliki semangat berbagi, bekerja sama dan tidak setia kawan. Anda akan hanya dijadikan tumbal, kuda tunggangan dan alat untuk mencapai tujuannya.

Dan jangan dikira, pasangan yang menikah tidak memiliki mental seperti ini. Berapa banyak kita telah menelan berita di media mengenai aneka pasangan yang meninggalkan pasangan hidupnya sejak lama dan sejak miskin, setelah menjadi kaya ? Atau di sekeliling kita, berapa banyak kita saksikan adanya pasangan dimana si istri (kadang beserta anak-anaknya) banting tulang mencari nafkah dan masih dicerca, sementara si suami dan ayah hanya berpangku tangan menikmati hasilnya ?

5. Yang Mengarahkan Diri Kita Ke Arah Yang Positif

"Tidak semua kawan itu baik. Tidak semua lawan itu buruk". Itu suatu pepatah tua Inggris yang amat saya percayai. Setidaknya, saat lawan menjelek-jelekkan diri kita, itu semacam alert bagi kita untuk introspeksi dan waspada. Sebaliknya saat sahabat-sahabat kita memuji dan memuja diri kita, itu umumnya saat dimana kita merasa besar dan terlena sehingga mudah membuat kesalahan.

Orang-orang yang pantas menjadi inner circle kita adalah orang-orang yang mampu mengarahkan diri kita selalu ke arah yang lebih positif. Tidak hanya dalam bentuk menyemangati, namun juga bisa menjadi kompas penunjuk arah, menjadi teladan dan bahkan menjadi inspirasi dalam tindakan, sikap dan pikiran kita dalam hidup.

Penutup : Pertanyaan yang pelik berikutnya adalah, bagaimana sebaiknya ? Bagaimana dengan pasangan hidup kita ?

Kita bisa menjawabnya sekaligus. Pertama kita harus melakukan seleksi akan pihak-pihak yang masih mungkin kita seleksi (seperti saudara, pasangan dan orang tua tentu sudah tidak mungkin kita seleksi bukan ?). Kita harus tentukan, mana-mana saja pihak-pihak yang akan kita tetapkan layak untuk bergaul dekat sebagai inner circle kita, dan kita pun harus mampu mendefinisikan dengan jelas dan rinci, apa kelebihan dan kekurangan masing-masing yang bisa kita ambil sebagai kualitas yang mendukung keberadaan mereka di sekitar kita.

Kedua, atas pihak yang sudah tidak mungkin kita seleksi namun masih kita rubah, segerakan kita rubah. Ada dua cara : proaktif dan pasif. Proaktif dengan cara mengajak pihak-pihak tersebut ke arah perubahan secara bersama-sama, sehingga tidak ada pihak yang merasa disudutkan atau diremehkan. Pasif dengan cara kita merubah diri kita menjadi pribadi yang positif dan layak menjadi inner circle mereka, agar mereka menjadi sadar dan merubah diri mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan layak menjadi inner circle bagi diri kita.

Ketiga, adalah situasi "bagaimana jika pihak-pihak tersebut tidak kunjung berubah ?" . Cuma ada dua pilihan : jaga jarak aman, atau jika memungkinkan akhiri. Tentu kepada saudara dan orang tua kita tidak mungkin mengakhiri hubungan. Cukup dengan menjaga jarak aman, menjaga kemandirian dan menjadi diri sendiri. Ini sudah cukup dan akan menjadi pukulan tersendiri saat menyadari Anda tidak lagi membutuhkan mereka.

Bagaimana dengan pasangan ? Jika belum sah menikah, Anda bisa tinggalkan dengan baik-baik dan sampaikan bahwa sudah tidak ada lagi kecocokan visi dan misi serta nilai-nilai yang sama dalam menjalani hidup. Repotnya jika Anda sudah sah menikah alias salah pilih. Pilihan terbaik adalah dengan memberikan ultimatum kepada pasangan Anda, dengan sampaikan bahwa "Kamu bukan lagi yang terbaik bagi saya, namun saya berharap kamu berubah jika memang saya masih penting untuk kamu". Pasangan yang waras dan normal tentu akan anggap serius ultimatum ini. Syaratnya : Anda harus lebih dulu pantaskan diri Anda menjadi pribadi yang layak menjadi soulmate dan inner circle baginya. Siap ?

Monday, June 25, 2012

20 Alasan Kenapa Anda Tidak Kaya


20 Alasan Kenapa Anda Tidak Kaya


Alasan kenapa anda bukan seorang milyarder (atau orang yang akan menjadi seorang milyarder) adalah sangat sederhana. Anda mungkin berpikiran bahwa anda mungkin tidak mengumpulkan uang yang cukup banyak, tetapi alasan yang sebenarnya sangat kecil hubungannya dengan jumlah uang yang anda kumpulkan. Intinya adalah bagaimana anda mengatur pengeluaran uang anda dalam kehidupan sehari-hari:

- Anda Cemas dengan Apa yang Tetangga / Kerabat Anda Pikirkan tentang Diri Anda

Jika anda bersaing dengan mereka atau dengan harta benda mereka, anda sebenarnya telah menyia-nyiakan uang hasil jerih payah anda dalam sebuah permainan yang hanya untuk memuaskan mereka tetapi tidak meningkatkan jumlah kekayaan anda.

- Anda Kurang Sabar

Sampai pada zaman kartu kredit sekarang ini, sangatlah sulit untuk tidak menghabiskan uang lebih banyak dari yang anda miliki. Ini bukanlah masalah utama sekarang. Tetapi jika anda selalu memiliki hutang kartu kredit karena anda tidak sabar menunggu sampai anda mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli sesuatu secara tunai, anda sebenarnya sedang membuat yang lain menjadi semakin kaya sementara anda sedang menumpuk utang.

- Anda Mempunyai Kebiasaan Buruk

Baik itu merokok, minum, judi dan beberapa kebiasan buruk lainnya, sifat yang selalu menghabiskan banyak uang dapat mempengaruhi anda untuk menjadi kaya. Banyak orang tidak sadar bahwa timbal balik dari kebiasaan buruk mereka itu tidak akan muncul sekarang, bahkan juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan perokok pasif disekitar anda, seperti keluarga anda yang nantinya harus anda tanggung juga biaya kesehatannya. Merokok merugikan kita jauh lebih besar dari harga rokok-rokok yang kita beli itu. Juga secara negatif memberi dampak buruk terhadap kondisi kekayaan anda karena harus membayar asuransi yang lebih tinggi dibandingkan bukan perokok.

- Anda Tidak Memiliki Target Pencapaian

Sangat sulit untuk untuk menjadi kaya jika anda tidak menghabiskan waktu untuk coba merenungkan apa sebenarnya yang anda inginkan. Jika anda tidak mempunyai target, anda sepertinya tidak ingin untuk menggapainya. Anda perlu mempunyai moto bagi diri anda sendiri seperti, "Saya ingin menjadi seorang jutawan." Anda perlu meluangkan waktu untuk merencanakan target tabungan dan investasi anda dalam jangka waktu satu tahun dan pikirkan rencana-rencana untuk mewujudkan target tersebut.

- Anda Belum Siap

Hal-hal buruk terjadi pada siapa saja dari waktu ke waktu, jika anda tidak menyiapkan asurasi untuk sesuatu yang akan terjadi pada anda, segala kekayaan yang anda sudah kumpulkan mungkin dapat hilang dalam seketika.

- Anda Mencoba untuk Menghasilkan Uang dengan Cepat

Bagi kebanyakan dari kita, kekayaan tidak datang dalam sekejap. Anda mungkin berpikir bahwa orang yang menang lotre / undian adalah sangat banyak, tetapi sebenarnya kemungkinan anda kalah sebenarnya lebih besar. Keinginan anda untuk menjadi kaya dalam waktu singkat adalah suatu hal yang sia-sia.

- Anda Mengandalkan Orang Lain Untuk Mengatur Keuangan Anda

Anda percaya bahwa orang lain mungkin memiliki pengetahuan lebih baik dalam masalah keuangan daripada anda, dan anda pun mengandalkan pandangan mereka dalam memutuskan dimana anda seharusnya investasikan uang anda. Tetapi tak beruntungnya, kebanyakan orang-orang ini ingin membuat membuat mereka sendiri yang kaya, ini adalah tujuan utama mereka ketika mereka memberitahu anda bagaimana untuk menginvestasikan uang anda. Dengarkan nasehat dari orang-orang lain untuk mendapatkan ide-ide yang baru, tetapi anda sendiri harus cukup menguasai bagaimana seharusnya mengambil keputusan dalam berinvetasi.

- Anda Berinvestasi dalam Sesuatu yang Anda Tidak Kuasai

Anda dengar bahwa Bob telah menghasilkan banyak uang dalam melakukan sesuatu investasi, anda pun ingin mengikutinya. Jika Bob benar-benar telah menghasilkan banyak uang, dia bisa begitu mungkin karena dia memang mengerti apa investasi itu. Ikut menanamkan uang anda dalam investasi hanya karena orang lain juga telah berhasil menghasilkan uang dengan cara itu tanpa anda benar-benar mengerti bagaimana investasi itu akan membuat anda jauh dari menuju kaya.

- Anda Takut Secara Keuangan

Anda takut akan resiko makanya anda terus menaruh uang anda dalam bentuk tabungan yang sebenarnya adalah anda sedang kehilangan uang anda ketika tingkat inflasi sama tinggi dengan tingkat suku bunga tabungan anda, sampai sekarang anda masih menolak untuk memindahkan uang anda ke bentuk investasi yang lain yang dapat memberikan bunga lebih tinggi mungkin karena anda takut bahwa anda akan kehilangan uang anda.

- Anda Mengabaikan Keuangan Anda

Anda menentukan sikap bahwa anda telah cukup, bahwa keuangan anda akan bersirkulasi dengan sendirinya, bahkan anda berpikir jika anda sekarang memiliki utang, hal itu akan dapat diatasi pada kemudian hari. Tetapi sesungguhnya, dibutuhkan perencanaan khusus untuk bisa menjadi kaya. Mungkin tidak hanya satu dari sekian kebiasaan buruk anda diatas yang terus membuat anda tidak dapat menjadi seorang milyarder. Tetapi sebuah campuran dari beberapa kebiasaan buruk di atas yang membuat anda begitu. Cobalah untuk menyimak kembali daftar di atas, dan coba bayangkan. Jika anda ingin menjadi seorang milyarder,anda harus menghadapi hal-hal yang menghalangi anda untuk menjadi kaya itu, sebelum anda memanggil diri anda sendiri milyarder.

- Anda Terlalu Peduli Bagaimana Penampilan dari Mobil Anda

Sebuah mobil adalah sebuah alat transportasi untuk membawa anda dari suatu tempat ke tempat yang lain, tetapi banyak orang tidak melihatnya dengan cara seperti ini. Malahan, mereka menganggap mobil sebagai citra dari diri mereka sendiri dan menghabiskan uang banyak setiap dua tahun sekali hanya untuk mobil atau hanya untuk membuat orang lain terkesan saja daripada hanya mengendarai mobilnya untuk segala keperluan hidupnya dan menginvestasikan uang yang ada.

- Anda Merasa Anda Mempunyai Gaya Hidup

Jika ada punya keyakinan bahwa anda berhak untuk hidup dengan gaya hidup tertentu, pantas memiliki beberapa barang tertentu dan patut menghabiskan sejumlah uang sebelum anda dapat hidup dengan gaya hidup semacam itu, anda akan perlu untuk meminjam uang. Hutang yang besar akan membuat anda selamanya tidak akan menjadi kaya.

- Anda Kurang dalam Melakukan Pembagian Investasi

Ada alasan kenapa salah satu pepatah tertua bagi para penasehat keuangan berbunyi: "jangan menaruh semua telur anda dalam satu keranjang yang sama." Memiliki portofolio investasi yang dipisah-pisahkan membuat kemungkinan kekayaan anda untuk hilang semakin sedikit.

- Anda Mulai dengan Terlambat

Keajaiban menggabungkan bunga adalah cara paling bagus bila dilakukan dalam jangka waktu panjang. Jika anda sadar bahwa anda selalu mengatakan bahwa akan selalu ada waktu untuk menabung dan berinvestasi di dua tahun mendatang, anda akan sadar pada suatu hari nanti bahwa masa pensiun anda tinggal menghitung hari tetapi anda tidak menemukan apapun di dalam rekening pensiun anda itu.

- Anda Tidak Melakukan Apa yang Anda Sukai

Sebenarnya pekerjaan anda tidak selalu harus adalah pekerjaan idaman anda, anda hanya perlu menikmatinya saja. Jika anda memilih sebuah pekerjaan yang anda tidak sukai hanya untuk tujuan mencari uang, anda mungkin akan menghabiskan uang lebih banyak lagi hanya untuk menghilangkan stress yang anda dapat dari pekerjaan yang anda benci itu.

- Anda Tidak Suka Belajar

Anda mungkin akan berpikir bahwa sekali anda lulus dari sekolah tinggi, tidak perlu untuk sekolah atau belajar lagi. Sikap seperti itu mungkin hanya cukup untuk mendapatkan pekerjaan pertamamu atau membuat anda dapat bekerja saja, tetapi itu tidak akan pernah membuat anda menjadi kaya. Sebuah keinginan untuk belajar bagaimana memperbaiki karir dan keuangan kamu adalah esensinya jika anda ingin menjadi kaya.

- Anda Membeli Barang-Barang yang Anda Tidak Gunakan

Coba lihat-lihat isi di dalam rumah anda, di lemari, di kolong, di lantai basement, loteng dan garasi dan lihatlah apakah ada banyak barang yang anda beli tetapi tidak anda gunakan. Barang yang belum rusak namun kini teronggok itu adalah membuang uang anda dimana sebenarnya uang itu dapat digunakan untuk menambah jumlah kekayaan anda.

- Anda Tidak Mengerti Nilai

Anda membeli barang untuk sejumlah alasan yang lain tetapi bukan karena harga barangnya. Ini tidak terbatas hanya bagi mereka yang selalu berpikir perlu membeli barang-barang yang mahal saja, tetapi juga termasuk mereka yang selalu membeli barang yang paling murah namun cepat rusak. Carilah barang yang anda butuhkan namun dengan nilai terbaik, untuk investasi yang berguna di masa depan anda.

- Rumah Anda Terlalu Besar

Ketika anda membeli sebuah rumah yang lebih besar dari yang anda sanggup atau perlukan, anda akan berakhir dengan menghabiskan uang yang lebih banyak pada pembayaran utang, pajak yang naik, biaya perawatan yang lebih tinggi dan membeli lebih banyak barang untuk memenuhi isi rumah anda itu. Beberapa orang akan berpendapat beda dengan mengatakan bahwa harga yang akan naik dari sebuah rumah merupakan sebuah investasi yang bagus, tetapi kenyataannya adalah selain dengan cara menurunkan standar kehidupan anda, dimana yang lain tidak mau melakukannya, anda tidak akan dapat menggunakan atau menikmati uang anda karena rumah anda itu tidak akan pernah menjadi aset yang cair.

- Anda Gagal Meraih Keuntungan dari Kesempatan yang Ada

Kemungkinan terdapat lebih dari satu kesempatan yang mungkin telah anda lewatkan setiap kali anda mendengar cerita tentang seseorang yang telah sukses dan anda mungkin berpikir, " Saya seharusnya juga memikirkan cara itu." Terdapat banyak kesempatan yang sebenarnya terpampang di muka anda jika anda punya kemauan dan kebulatan tekad untuk menyimaknya



http://forum.detik.com/20-alasan-kenapa-anda-tidak-kaya-t250136.html

Ini 8 Tips Berhemat Hingga Rp 1 Juta Setiap Bulan


Ini 8 Tips Berhemat Hingga Rp 1 Juta Setiap Bulan



Jakarta - Sering merasa 'tongpes' tiap akhir bulan? Bingung harus menghemat pengeluaran yang mana lagi? Mungkin justru karena Anda tidak sadar bahwa pengeluaran remeh-remeh itulah yang termasuk boros. Pengeluaran untuk belanja makanan atau jajan berkontribusi besar dalam anggaran Anda setiap bulannya.

Dengan membuat rencana belanja yang matang, membuat keputusan cerdas dan mengubah beberapa kebiasaan, Anda bisa menghemat hingga Rp 1 juta setiap bulannya. Berikut ini ada 8 tips berhemat yang mungkin bisa Anda ikuti dengan mudah, seperti dilansir dari DailyFinance (22/6/2012):

1. Jangan jajan kopi tiap hari


Buat kopi sendiri di rumah atau kantor maka Anda hanya perlu mengeluarkan Rp 100.000-350.000 per bulan. Bandingkan jika Anda setiap hari membeli satu atau dua gelas kopi di gerai seperti Starbuck. Jika segelasnya berkisar Rp 30.000-60.000 maka pengeluaran jajan kopi Anda setiap bulan bisa mencapai Rp 1 juta lebih.

2.Bawa botol minum sendiri


Daripada setiap hari beli air mineral atau air oksigen di minimarket seharga Rp 3.000-10.000, bawa botol minum sendiri yang bisa diisi ulang di rumah dan kantor. Atau kalau mau sedikit repot sekaligus 'investasi', beli alat filter air yang bisa mengubah air ledeng jadi air minum. Ini juga bisa menghemat pengeluaran membeli galon air mineral. Cara ini bisa menghemat hingga Rp 800.000 per bulan.

3. Beli yang sedang musim


Saat belanja bahan makanan atau buah, perhatikan waktunya. Cari yang sedang musimnya supaya dapat harga lebih murah.

4. Jangan buang-buang makanan


Ingatlah masa kadaluarsa setiap bahan makanan yang Anda beli. Ratusan ribu uang bisa terbuang percuma jika sayur, daging dan bahan makanan lain terlanjur rusak sebelum Anda sempat memasaknya. Menurut Natural Resources Defense Council, rata-rata warga Amerika membuang makanan senilai US$ 40 (Rp 380.000) atau setara 15 kg setiap bulannya.

5. Beli ukuran besar


Hati-hati dengan produk-produk berkemasan praktis. Memang lebih mudah jika beli snack dalam kemasan kecil. Tidak memenuhi ruang di tas. Tapi kepraktisan ini mengenakan biaya lebih mahal, sekitar 40% dari harga bahan baku. Lebih baik beli kemasan reguler atau ukuran jumbo, lalu Anda bagi-bagi sendiri ke porsi lebih kecil menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang kali.

6. Jangan lihat merek


Coba beralih ke merek yang lebih murah atau lirik produk keluaran swalayannya. Menurut studi dari Private Label Manufacturers Association, selama enam minggu konsumen bisa menghemat 33% uang belanja reguler jika tidak memilih produk bermerek langganannya. Persentase ini setara dengan penghematan hingga Rp 300,000 per bulannya.

7. Hindari Makanan Beku


Mungkin Anda kira dengan membeli makanan beku yang bisa dimasak berkali-kali dalam waktu lama akan lebih hemat. Tapi tetap saja, ternyata membuat masakan dari bahan baku segar lebih murah. Dan lebih sehat tentunya.

8. Manfaatkan kupon diskon


Tak ada yang salah dengan kupon diskon karena memang Anda bisa menghemat lumayan banyak. Tidak perlu malu menggunakannya karena ternyata yang paling banyak menggunakan kupon diskon adalah golongan menengah atas.



http://forum.detik.com/ini-8-tips-berhemat-hingga-rp-1-juta-setiap-bulan-t447026.html

Smart Networking


Manusia adalah makhluk sosial, dan karenanya kebutuhan bersosialisasi menjadi penting sebagaimana layaknya makan, minum, rumah dan pakaian. Sulit membayangkan seorang manusia dapat dikatakan "normal" jika ia hidup seorang diri. Saya pribadi berkeyakinan akan terjadi suatu gangguan pada dirinya jika terlalu lama terisolasi tanpa adanya interaksi antara manusia dengan manusia lain.

Dalam kerangka berpikir secara fitrah manusia harus bergaul, maka wajar jika networking menjadi suatu bagian tak terpisahkan. Networking bisa kita terjemahkan secara luas, bisa berarti mencari teman, bisa berarti memperluas lingkup pergaulan, bahkan tidak terlalu salah juga jika diartikan mencari peluang bisnis sekalipun.

Lalu bagaimana halnya dengan kendala yang dihadapi sebagian orang yang merasa sulit networking ? Bisa karena memang pemalu, tidak tahu caranya, atau bahkan merasa ada kendala teknis, misalkan saja dana untuk bersosialisasi atau malah tidak tahu akses yang diperlukan untuk melakukan hal tersebut. Sesungguhnya tidak terlalu sulit, jika kita coba ikuti beberapa tips ringan smart networking berikut ini.

1. Tetapkan 1 atau 2 minat.

Mungkin ada banyak sekali hal yang menarik minat kita, dari mulai serangga hingga politik. Sah-sah saja, namun menjadi lucu jika dalam networking kita memaksakan diri kita untuk memperluas pergaulan dengan mengikuti sebanyak-banyaknya komunitas minat tersebut. Tetapkan paling banyak 2 area yang menurut anda paling memungkinkan (dan paling bermanfaat bagi anda) untuk perluas network anda, sekalipun anda kurang tertarik pada area tersebut. Ini akan membantu anda untuk fokus dan memiliki kemungkinan berhasil lebih besar dengan rencana dan aksi yang terarah.

2. Tetapkan alokasi dana, waktu dan lingkup jelajah

Setiap upaya networking tentu memerlukan dana dan waktu. Serta tentunya memiliki domisili. Ada  baiknya di awal anda tetapkan untuk menetapkan berapa besar dana dan waktu yang akan anda investasikan untuk networking. Sebagai ilustrasi, seorang kawan memilih bergabung dengan klub otomotif merek tertentu sebagai sarana untuk networkingnya, kebetulan selain ia memiliki mobil merek tersebut ia juga melihat bahwa klub tersebut cukup besar dan merek tersebut amat populer di Indonesia. Sayangnya ia tidak mengukur sejak awal, aktivitas di klub ini sekalipun tidak semuanya mengeluarkan biaya ekstra, memerlukan waktu ekstra dan seringkali bentuknya adalah jamboree dan touring ke berbagai daerah. Ini tidak sesuai dengan kemampuannya yang memang tidak mampu mengemudi jauh dan tuntutan aktivitas kerja yang tidak memungkinkan banyak waktu luang. Akhirnya ia keluar dari klub setelah menyadari ia hanya jadi pelengkap penderita saja...

3. Disiplin, tetap luwes dan bersikap terbuka.

Kita akan temui berbagai orang dengan aneka pikiran dan latar belakang yang berbeda pula saat di suatu event dan lakukan networking. Pastikan anda tahu apa yang harus anda perbuat dan akan anda capai. Misalkan anda networking di kalangan praktisi pendidikan, pastikan bahwa tujuan anda tidak salah tempat. Melakukan networking untuk mendukung rencana anda berbisnis dan mencari pemodal tentu tidak tepat waktu dan tempat jika dilakukan di situasi ini. Sebaliknya, jika maksud tersebut anda terapkan di suatu event pertemuan bisnis, pastikan anda disiplin dengan tujuan anda.

Tidak perlu terlalu kaku, semua orang bisa kita anggap prospektif, dan analisis bisa kita lakukan setelahnya di rumah atau kantor. Fokus pada perkenalkan diri anda dan apa yang anda punya, ketimbang memaksakan tujuan anda di awal. Penting untuk selalu bersikap terbuka dan luwes. Saat ada pihak yang kurang interest untuk berinteraksi dengan anda, tidak perlu kecil hati. Tetap sopan, profesional dan ramah, anda akan tetap menjadi daya tarik bagi pihak lain yang menyaksikan sikap anda yang terbuka, luwes dan ramah.

4. Gunakan formula "3 DULU".

Formula 3 Dulu adalah suatu ringkasan rencana aksi dalam tiap event apapun yang anda maksudkan sebagai ajang networking. Itu adalah (1) Tersenyum lebih dulu, (2) Ulurkan tangan lebih dulu, (3) Bertanya lebih dulu. Inisiatif adalah kunci kesuksesan bergaul dan networking.

Tersenyum lebih dulu memberikan kesan positif bahwa kita seseorang yang ramah, sopan dan terbuka. Ini adalah suatu password universal bahwa kita makhluk sosial yang ingin berinteraksi positif dengan makhluk lain di depan kita.

Uluran tangan terlebih dahulu, tentu dengan bahasa tubuh yang positif dan ramah, menjadi tindak lanjut dari senyum kita bahwa kita ingin berkenalan dengan orang di depan kita.

Dan bertanya lebih dahulu, dengan tiga content wajib "Apa kabar ? Dengan Bapak/Ibu .... ? Dari ..... ?" menjadikan ritual perkenalan ada sepenuhnya di dalam kendali kita. Latihlah rangkaian aksi ini sehingga natural dan terasa hangat serta profesional. Siapa yang mampu menolak ajakan perkenalan anda ?

5. Persiapan : daftar pertanyaan dan alat perkenalan

Penting untuk kita persiapkan daftar pertanyaan yang terkemas dengan rapi, profesional, sopan dan positif. Siapkan setidaknya 5 atau 6 pertanyaan yang dapat membangun suatu percakapan hangat dengan kenalan baru untuk setidaknya selama 5-10 menit setelah ritual perkenalan berlangsung. Pertanyaan mengenai "dari perusahaan ........ ?", "bergerak di bidang ..... ?", "bagaimana pak situasi market saat ini ....?" dan selanjutnya akan menggiring kedua pihak pada percakapan yang positif. Ingatlah bahwa perkenalan bukan sebatas mengetahui nama lawan bicara kita namun lebih jauh dalam networking adalah kita mengetahui latar belakangnya.

Jika kita bertanya, tentu besar kemungkinan kita akan ditanya balik. Persiapan berikutnya adalah daftar jawaban akan pertanyaan-pertanyaan umum dari lawan bicara kita. Persiapkan jawaban yang ringkas namun efektif dan profesional. Misalkan pertanyaan "bapak bergerak di bidang apa ?", tidak perlu kita jawab mendetail seperti menjawab auditor atau wartawan. Siapkan jawaban yang ringkas mengenai bidang usaha kita, domisili, market utama, dan brand yang digunakan. Ini sudah memberikan gambaran yang relatif lengkap dan positif dalam kesempatan pertama.

Terakhir, jangan sampai kehabisan, atau parahnya tidak membawa, kartu nama anda ! Pastikan anda membawa stock yang cukup di saku anda atau di dompet kartu nama anda. Dan pastikan anda mengetahui dan mampu mempraktekkan courtesy dalam pertukaran kartu nama sesuai event yang akan anda hadiri untuk networking. Kesalahan kecil dalam ritual ini seringkali memberikan kesan buruk dan menyulitkan kita untuk interaksi selanjutnya.

6. Follow Up : Gunakan pola 1-2-3

Ada baiknya kita terapkan pola 1-2-3 dalam interaksi setelah event untuk mendukung maksud kita networking. Apa itu ? Artinya untuk tiap 1 orang kenalan baru yang kita peroleh, kita lakukan 2 follow up (sangat disarankan satu secara langsung misalkan menelepon, dan satu lagi secara tertulis, misalkan e-mail) sebelum 3 hari berlalu. Ini akan memperkuat kesan positif yang telah kita bangun dan menumbuhkan sugesti pada orang tersebut bahwa dirinya penting bagi kita. Follow up ini amat bermanfaat untuk kita lanjutkan dengan diskusi lebih jauh sesuai maksud kita, misalkan bisnis, atau sekedar memperluas jaringan.

Selamat networking !

on twitter @katjoengkampret | e-mail : katjoengkampret@aol.com

Sunday, June 24, 2012

Pareto rule in friendship

Hukum Pareto secara generik menyatakan bahwa 20% potensi akan berkontribusi atas 80% hasil dan sebaliknya. Hal ini sudah lama diketahui dan diterapkan di berbagai bidang ilmu : ekonomi, statistik, investasi, produksi, keuangan dan manajemen. Tahukah Anda ini juga berlaku dalam pertemanan?

Pepatah lama menyatakan "Anda adalah dengan siapa-siapa saja Anda bergaul". Ini benar. Dan Pareto Rule berperan di dalamnya.

Pareto #1 : 20% teman Anda adalah orang-orang yang berkontribusi atas 80% keberhasilan dan kemudahan dalam hidup Anda --» pilihlah baik-baik 20% tersebut dan mulailah kurangi interaksi dengan yang 80% tersebut

Pareto #2 : 80% masalah dan kesulitan Anda berasal atau setidaknya melibatkan 20% dari teman Anda --» siap-siap untuk mengkaji kemungkinan menjauhi 20% tersebut agar hidup Anda lebih sehat dan lebih sedikit menemui masalah

Pareto #3 : 20% teman Anda adalah pihak-pihak yang membuat Anda tetap "hidup" (keeps you alive), sementara 80% sisanya yang tidak ada pengaruhnya bagi Anda, bahkan celakanya mungkin hidup dari Anda --» no further comment, jaga baik-baik yang 20% dan jaga "jarak aman" dengan yang 80% lagi

Pareto #4 : 80% waktu-energi-emosi-uang Anda terbuang untuk "melayani" dan berinteraksi dengan 20% dari seluruh teman Anda --» Anda buang 20% ini maka Anda punya hidup yang lebih berkualitas karena ada 80% waktu-energi-emosi-uang yang bisa Anda gunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat

Pareto #5 : 20% teman Anda adalah yang menghubungkan Anda dengan 80% jaringan Anda yang lain --» manusia adalah makhluk sosial, 20% ini lah yang tetap jadikan Anda makhluk sosial yang unggul karena terus membantu Anda perluas pergaulan Anda

Pareto #6 : 80% mood Anda (mood baik maupun mood buruk) amat dimungkinkan berasal atau setidaknya dipengaruhi oleh 20% orang di sekeliling Anda --» sedihnya, 20% ini seringkali adalah orang-orang terdekat kita, semoga yang 20% ini justru selalu membawa mood baik bagi diri Anda !

Dengan adanya social media dan teknologi, sedikit mengaburkan arti dan hakekat teman serta pertemanan. Untuk itu disarankan untuk sedikit mengesampingkan "teman" anda di jaringan sosial. Teman di facebook adalah teman dalam status teknologi, namun tidak termasuk dalam saran-saran di atas.

Dengan merujuk pada Pareto Rule pertemanan di atas, mulailah menyeleksi rekan-rekan Anda, karena sadarilah, Anda tidak mungkin menyangkal hal-hal berikut :
1. Waktu Anda terbatas, tidak ada cukup waktu untuk melayani semua orang
2. Uang Anda terbatas, bergaul perlu uang dan kadang Anda harus relakan "biaya sosial", mulailah selektif dengan berteman dengan mereka yang membuat Anda produktif, bukan konsumtif
3. Tenaga Anda terbatas, efektifkan dan efisienkan hal-hal yang Anda lakukan untuk hal-hal yang memang berguna, menyenangkan dan memiliki nilai tambah. Investasi di setiap hal!
4. Emosi Anda bukannya air di kolam ikan yang tanpa gejolak. Arahkan diri Anda kepada sumber emosi positif, yang membantu Anda tetap positif, terkontrol, produktif dan semangat.

Pilihlah rekan Anda secara selektif untuk Anda masukkan sebagai "inner circle" Anda, HANYA jika mereka :
1. Membuat Anda jadi lebih positif ketimbang malah jadi lebih negatif
2. Membuat Anda terjaga selalu keseimbangan dalam kata, pikiran dan perbuatan, ketimbang menjadikan Anda jagoan tanpa kontrol dengan attitude seperti "kompor"
3. Menjadikan Anda lebih terrencana, terkontrol, terjaga dan terpelihara : baik dalam aspek finansial, aspek emosional, aspek kebugaran fisik dan tentu aspek psikologis
4. Membantu Anda untuk menjadi lebih produktif ketimbang konsumtif
5. Membantu Anda untuk menjadi lebih religius dan memiliki disiplin tata nilai yang lebih baik dan seimbang
6. Membuat Anda lebih memiliki penghargaan dan rasa hormat pada keluarga, tanggung jawab dan diri sendiri

Selamat bersosialisasi dengan sehat.

On twitter @katjoengkampret
E-mail : katjoengkampret@aol.com
on twitter @katjoengkampret
katjoengkampret.blogspot.com

Tuesday, May 15, 2012

Lounge, solusi praktis anti boring saat delay

Apa yang anda rasakan saat alami penundaan penerbangan (flight delay) hingga berjam-jam? Pasti jengkel, bosan, lelah (padahal gak ngapa-ngapain ya) dan bad mood. Sama, saya juga demikian. Saya alami hari ini saat penerbangan saya dari Denpasar ke Labuan Bajo ditunda karena cuaca buruk.

Memang ada kompensasi berupa makanan (kecil atau besar, tergantung lama delay) bahkan voucher sebesar Rp 300.000,- per empat jam keterlambatan. Tapi tetap rasa tidak nyaman itu akan ada. Tiket yang sudah dibeli tentu juga tidak mungkin diuangkan kembali bukan?

Saya mencoba menyikapi "nasi sudah menjadi bubur" ini dengan menjadikan "bubur" itu selezat mungkin. Bagaimana caranya? Cari bumbu yang pas! Buat saya, "bumbu" tersebut adalah executive lounge.

Di bandara Ngurah Rai yang serba "wah" ternyata jika cermat banyak promo menarik. Dengan menunjukkan logo salah satu operator seluler maka saya hanya membayar separuh harga dari entrance fee ke lounge tersebut. Dan inilah salah satu pembelanjaan Rp 45.000,- terbaik saya sejauh perjalanan ini.

Di lounge ini, saya menunggu selama 3 jam 45 menit. Ada sofa bahkan kursi electric massage yang cukup nyaman. Ada koneksi internet yang cepat dan nyaman. Juga fasilitas toilet, mushalla dan tentu aneka kue dan minuman yang cukup lezat.

Berangkat masih cukup pagi, sekitar pukul 7, tentu urusan "ke belakang" dan sarapan menjadi tidak terakomodasi dengan baik. Kelihatan sepele, tapi mengganggu lho sebenarnya. Saya jadikan fasilitas di lounge ini untuk akomodasikan kebutuhan "primer" saya. Sesudahnya saya pun dapat melaksanakan ibadah shalat sunnah di mushalla yang bersih dan nyaman.

Mengurangi kebosanan, aneka bacaan yang baru dan televisi dengan multi channel relatif menghibur. Namun saya lebih suka manfaatkan waktu dengan mengisi baterai telepon genggam dan berselancar di internet. Cukup produktif, dalam 2 jam saya isi penuh baterai seluruh telepon saya dan baterai cadangan, serta lakukan beberapa aktivitas di internet.

Tidak terasa, petugas lounge ingatkan bahwa saya harus check in.

Saya rasa kiat ini dapat kawan-kawan terapkan juga saat lakukan perjalanan dan terkena delay.

Have a nice trip!

On twitter @katjoengkampret | katjoengkampret@aol.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, May 11, 2012

Krisis : Bahaya + Peluang


Krisis. Dari bahasa Inggris "crisis" dapat kita referensikan sebagai berikut menurut situs wikipedia.org :
 a) situation of a complex system
b) poor function. The system still functions, but does not break down.
c) an immediate decision is necessary to stop the further disintegration of the system.
d) the causes are so many, or unknown, that it is impossible to take a rational, informed decision to reverse the situation

Sementara di situs yang sama menegaskan bahwa suatu situasi yang disebut krisis umumnya mengandung komponen-komponen berikut ini :
1. Unexpected / Surprise : ada unsur kejutan, tidak terduga, tidak diharapkan terjadi
2. Create Uncertainty : menciptakan suatu kondisi ketidakpastian (dan umumnya ketidaknyamanan)
3. Threat to Important Goals : menciptakan potensi ancaman akan suatu rencana atau tujuan yang akan dicapai

Yang menarik adalah, dalam bahasa Cina, kata 'krisis' sendiri secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi dua makna secara kontekstual, yaitu 'bahaya' dan 'kesempatan'. Saya tentu tidak akan membahas aspek linguistik dari hal ini, tetapi saya mencoba melihatnya dari sudut pandang lainnya : kemampuan untuk melakukan turn around.

Lama sudah kita kenal bahwa negeri Cina dan saudara-saudara kita yang berdarah Cina amat lekat dengan kata-kata dan label "tekun", "gigih", "survivor", dan "ulung". Lebih jauh bahkan di berbagai belahan dunia cukup lekat pula dengan kata-kata "dagang" atau "niaga", "pengusaha" dan "sukses". Saya bisa dikategorikan sebagai pribadi yang nyaris 100% sepakat dengan semua label tersebut, karena memang demikian lah fakta yang tersaji di depan kita. Tetapi apa benang merahnya dari semua hal tersebut ? Satu hal : kemampuan bertahan dari bahaya dan memutarbalikkannya menjadi sukses dengan kejelian melihat celah peluang dan mengkonversikannya menjadi suatu hal yang produktif.

Mari kita lihat sedikit ke arah diri sendiri, kehidupan kita dan alam sekitar kita. Ada berapa banyak kemungkinan kita temui suatu situasi dimana tidak ada bahaya sama sekali ? Rasanya hampir tidak ada. Bahkan orang bijak pun mengatakan bahwa "tidur siang pun bisa jadi beresiko", karena setidaknya ada potensi kehilangan pembeli jika kita pedagang karena toko kita tinggal tidur. Namun kemampuan melihat potensi bahaya dengan cermat, akan memberi kita dua hal lain yang dapat kita olah : celah untuk menghindarkan bahaya tersebut, dan celah untuk mengkonversi bahaya tersebut menjadi peluang produktif.

Baru-baru ini kita mendengar berita akuisisi situs pengolahan gambar online Instagram oleh raksasa social media Facebook. Di berita kemarin diungkapkan bahwa Facebook memang mengakusisi Instagram dengan amat mahal karena dorongan psikologis : merasa terancam. Instagram menjadi amat populer karena memang ada banyak manusia di dunia ini yang suka dengan gambar, berbagi dengan gambar, dan mengekspresikan dirinya dengan gambar. Facebook melihat ini semua sebagai ancaman, dan di sisi lain melihat krisis ini sebagai peluang untuk melebarkan sayapnya ke kalangan penggila gambar.

Untuk memiliki kemampuan turn around tersebut, sebenarnya kita cukup kembali ke uraian mengenai kandungan krisis di atas. Apa saja ?

1) Membatasi keterkejutan kita akan hal yang Unexpected tersebut, lalu pelajari mengapa dan apa yang membuat kita terkejut ? Apakah selama ini kita tidak memperhatikan pesaing ? Apakah kita selama ini terlalu nyaman dengan keunggulan kita ? Apakah kita tidak menyadari penurunan kualitas kita ? Membatasi keterkejutan dan mengidentifikasi sebabnya adalah 50% dari titik balik yang kita harapkan.

2) Membatasi ketidakpastian yang kita rasakan, identifikasi pada hal-hal apa saja kita rasakan aspek ketidakpastian meningkat ? Dan pada hal-hal apa saja di sisi lain aspek ketidakpastian berkurang ? Dari analisa ini kita dapat alokasikan prioritas kita, apakah akan maksimalkan aspek yang kadar ketidakpastiannya berkurang atau justru pertajam fokus kita untuk bertarung di aspek yang kadar ketidakpastiannya tinggi ? Lalu lakukan upaya manajemen resiko untuk mereduksi potensi kerugian atau kejutan susulan jika apa yang tidak pasti menjadi suatu kenyataan.

3) Membatasi obsesi kita akan kondisi ideal atas tujuan dan rencana yang sudah ditetapkan. Dunia ini amat dinamis, dan kita harus fleksibel namun disiplin. Jangan mudah menyerah namun kita harus cukup kenyal untuk sesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Kunci bertarung dengan krisis, survive lalu putarbalikkan keadaan dengan mengoptimalkan peluang adalah kemampuan beradaptasi. Tahukah Anda bahwa kayu lebih mudah patah daripada karet ?

Sudahkan kita asah pisau kita untuk mampu membelah dua daging sekaligus di piring kita : bahaya dan peluang ?

twitter : @katjoengkampret | e-mail : katjoengkampret@aol.com